BULAN KITAB SUCI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

September 15, 2009 at 12:12 am Tinggalkan komentar

Pertemuan II

HEROISME IMAN: TAAT SETIA KEPADA ALLAH, TEGAS MENOLAK ILAH-ILAH

Pengantar

Membela iman di zaman ini, rasa-rasanya menjadi suatu hal yang tidak mudah dilakukan, bukan karena sulit tetapi karena kurangnya militansi iman di dalam diri umat beriman. Tantangan zaman menyebabkan orang melihat iman pun dari sisi untung rugi: untuk apa aku membela imanku mati-matian kalau ternyata tidak menguntungkan hidupku di dunia ini? Apa untungnya aku mempertahankan imanku?

Dalam pertemuan pertama minggu lalu, kita disadarkan bahwa membela iman adalah suatu keutamaan yang harus dikembangkan di dalam hati setiap umat beriman, teristimewa dikembangkan dalam kebersamaan sebagai Gereja. Tentu saja, kita tidak harus sampai mengadakan perang suci seperti Matatias, yang mempertaruhkan nyawa mempertahankan kesucian Bait Allah. Akan tetapi, semangat seperti Matatias tersebut perlu dibangun di dalam setiap diri umat beriman.

Pada pertemuan kedua ini, kita akan diajak untuk merenungkan militansi iman dari sisi yang berbeda. Kisah tentang ibu dan ketujuh anaknya mengajak kita untuk merenungkan keberanian dalam menghadapi siksaan, penderitaan dan bahkan hukuman mati demi iman. Dari kisah ini, kita dapat merenungkan dan menimba kekuatan iman bahwa keyakinan akan adanya kebangkitan badan dan kehidupan kekal, menggerakkan orang untuk teguh dan berani menghadapi penderitaan bahkan kematian demi iman.

Pembacaan Teks Kitab Suci: 2 Makabe 7:1-42

1.Terjadi pula yang berikut ini: Tujuh orang bersaudara serta ibu mereka ditangkap. Lalu dengan siksaan cambuk dan rotan mau dipaksa oleh sang raja untuk makan daging babi yang haram. 2.Maka seorang dari antara mereka, yakni yang menjadi juru bicara, berkata begini: “Apakah yang hendak baginda tanyakan kepada kami dan apakah yang hendak baginda ketahui? Kami lebih bersedia mati daripada melanggar hukum nenek moyang.” 3.Maka geramlah sang raja, lalu diperintahkannya untuk memanaskan kuali dan kancah. 4.Segera setelah semuanya menjadi panas diperintahkanlah oleh sang raja, agar lidah juru bicara itu dipotong, kepalanya dikuliti dan tangan serta kakinya dikerat dengan disaksikan oleh saudara-saudara lain itu serta ibu mereka. 5.Setelah orang itu dipuntungkan seluruhnya, maka sang raja menyuruh untuk membawa orang yang masih bernafas itu ke api dan menggorengnya di dalam kuali. Sementara uap dari kuali itu merata luas, maka saudara-saudara lain serta ibu mereka mengajak untuk mati secara perwira. 6.Kata mereka: “Tuhan Allah melihat ini. Ia sungguh-sungguh menghibur kita, sebagaimana dahulu dinyatakan oleh Musa dalam lagu bantahan yang memberikan kesaksian ini: Ia akan menghibur hamba-hamba-Nya.” 7.Setelah yang pertama berpulang secara demikian lalu yang kedua dibawa untuk disiksa. Setelah kulit kepalanya serta rambutnya dikupas oleh mereka, maka bertanyalah mereka kepadanya: “Maukah engkau makan sebelum badanmu disiksa anggota demi anggota?” 8.Jawabnya dalam bahasanya sendiri: “Tidak!” Dari sebab itu maka pada gilirannya ia pun disiksa juga sama seperti yang pertama. 9.Ketika sudah hampir putus nyawanya berkatalah ia: “Memang benar kau, bangsat, dapat menghapus kami dari hidup di dunia ini, tetapi Raja alam semesta akan membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, oleh karena kami mati demi hukum-hukum-Nya.” 10.Sesudah itu maka yang ketiga disengsarakan. Ketika diminta segera dikeluarkannya lidahnya dan dengan berani dikedangkannya tangannya juga. 11.Dengan berani berkatalah ia: “Dari sorga aku telah menerima anggota-anggota ini dan demi hukum-hukum Tuhan kupandang semuanya itu bukan apa-apa. Tetapi aku berharap akan mendapat kembali semuanya dari pada-Nya!” 12.Sampai-sampai sang raja sendiri serta pengiringnya pun tercengang-cengang atas semangat pemuda itu yang memandang kesengsaraan itu bukan apa-apa. 13.Sesudah yang ketiga berpulang, maka yang keempat disiksa dan dipuntungkan secara demikian pula. 14.Ketika sudah dekat pada akhir hidupnya berkatalah ia: “Sungguh baiklah berpulang oleh tangan manusia dengan harapan yang dianugerahkan Allah sendiri, bahwa kami akan dibangkitkan kembali oleh-Nya. Sedangkan bagi baginda tidak ada kebangkitan untuk kehidupan.” 15.Sesudah itu segera yang kelima dibawa ke situ dan disengsarakan. 16.Sambil menatap sang raja berkatalah ia: “Meskipun baginda fana juga, namun baginda mempunyai wewenang atas manusia untuk berbuat sesuka hati baginda, tetapi baginda jangan menyangka Allah telah meninggalkan bangsa kami. 17.Baiklah baginda dengan sabar menunggu saja, niscaya baginda akan menyaksikan kebesaran kekuasaan Tuhan. Baginda akan mengalami bagaimana baginda sendiri serta keturunan baginda akan disengsarakan oleh Tuhan!” 18.Sesudah dia maka dibawalah yang keenam ke situ. Ketika sudah hampir menemui ajalnya berkatalah ia: “Jangan berpikir salah oleh karena kami menderita sengsara ini oleh sebab diri kami sendiri, oleh karena kami telah berdosa kepada Allah kami. Itulah sebabnya maka hal-hal yang mengherankan telah menimpa diri kami. 19.Tetapi baginda jangan menyangka bahwa baginda akan terluput dari hukuman. Sebab baginda sudah memerangi Allah.” 20.Tetapi terutama ibu itu sungguh mengagumkan secara luar biasa. Ia layak dikenang-kenangkan baik-baik. Ia mesti menyaksikan ketujuh anaknya mati dalam tempo satu hari saja. Namun demikian, itu ditanggungnya dengan besar hati oleh sebab harapannya kepada Tuhan. 21.Dengan rasa hati yang luhur. Dengan semangat jantan dikuatkannya tabiat kewanitaannya lalu berkatalah ia kepada anak-anaknya: 22.”Aku tidak tahu bagaimana kamu muncul dalam kandunganku. Bukan akulah yang memberi kepadamu nafas dan hidup atau menyusun bagian-bagian pada badanmu masing-masing! 23.Melainkan Pencipta alam semesta yang membentuk kelahiran manusia dan merencanakan kejadian segala sesuatunya. Dengan belas kasihan-Nya Tuhan akan memberikan kembali roh dan hidup kepada kami, justru oleh karena kamu kini memandang dirimu bukan apa-apa demi hukum-hukum-Nya.” 24.Adapun raja Antiokhus mengira bahwa ibu itu menghina dia dan ia menganggap bicaranya suatu penistaan. Anak bungsu yang masih hidup itu tidak hanya dibujuk dengan kata-kata, tetapi sang raja juga menjanjikan dengan angkat sumpah bahwa anak bungsu itu akan dijadikannya kaya dan bahagia, asal saja ia mau meninggalkan adat istiadat nenek moyangnya. Bahkan ia akan dijadikannya sahabat raja dan kepadanya akan dipercayakan pelbagai jabatan Negara. 25.Oleh karena pemuda itu tidak menghiraukannya sama sekali, maka sang raja memanggil ibunya dan mendesak, supaya ia menasehati anaknya demi keselamatan hidupnya. 26.Sesudah ia lama mendesak barulah ibu itu menyanggupi untuk meyakinkan anaknya. 27.Kemudian ia membungkuk kepada anaknya lalu dengan mencemoohkan penguasa yang bengis itu berkatalah ia dalam bahasanya sendiri: “Anakku, kasihanilah aku yang sembilan bulan lamanya mengandungmu dan tiga tahun lamanya menyusuimu. Aku pun sudah mengasuhmu dan membesarkanmu hingga umur sekarang ini dan terus-menerus memeliharamu. 28.Aku mendesak, ya anakku, tengadahlah ke langit dan ke bumi dan kepada segala sesuatunya yang kelihatan dan di dalamnya. Ketahuilah bahwa Allah tidak menjadikan kesemuanya itu dari barang yang sudah ada. Demikian pun bangsa manusia dijadikan juga. 29.Jangan takut kepada algojo itu. Sebaliknya, hendaklah menyatakan diri sepantas kakak-kakakmu di masa belas kasihan kelak.” 30.Ibu itu belum lagi mengakhiri ucapannya itu, maka berkatalah pemuda itu: “Kami menunggu siapa? Aku tidak mentaati penetapan raja. Sebaliknya aku taat pada segala ketetapan Taurat yang sudah diberikan oleh Musa kepada nenek moyang kami. 31.Niscaya baginda yang menjadi asal usul segala malapetaka yang menimpa orang-orang Ibrani tidak akan terluput dari tangan Allah. 32.Memanglah kami ini menderita oleh sebab dosa-dosa kami sendiri. 33.Kalau pun Tuhan yang hidup itu murka sebentar kepada kami untuk menegur dan memperbaiki kami, namun Ia pasti akan berdamai lagi dengan hamba-Nya. 34.Tetapi baginda, orang yang paling fasik dan paling keji di antara sekalian manusia, janganlah meninggikan diri dengan sia-sia dan tertipu oleh harapan yang tak pasti, meskipun baginda sekarang dapat menjatuhkan tangan baginda kepada abdi-abdi Sorga. 35.Sebab baginda belum juga terluput dari pengadilan Yang Mahakuasa dan Allah Pengawas. 36.Adapun saudara-saudara kami mendapat minuman kehidupan kekal karena perjanjian Allah, setelah mereka menderita sengsara sementara. Sedangkan baginda akan mendapat hukuman yang adil atas kecongkakan baginda oleh karena pengadilan Allah. 37.Sama seperti kakak-kakakku aku pun hendak menyerahkan jiwa ragaku juga demi hukum-hukum nenek moyang. Dan aku berseru kepada Allah, semoga Ia segera kembali mengasihani bangsa kami, dan semoga dengan pencobaan dan deraan baginda dibawa-Nya untuk mengakui, bahwa Dialah Allah yang esa. 38.Semoga kemurkaan Yang Mahakuasa yang secara adil berkecamuk atas seluruh bangsa kami itu berhenti dengan diriku dan dengan diri kakak-kakakku.” 39.Dengan meluap-luaplah kemurkaannya sang raja menyuruh untuk memperlakukan anak bungsu itu dengan lebih bengis daripada yang lain-lain. Sebab ia sakit hati karena cemooh itu. 40.Demikianlah anak muda itu berpulang dengan tak bercela, hanya dengan penuh kepercayaan pada Tuhan. 41.Ibu itu mati paling akhir sesudah anak-anaknya. 42.Dengan ini kisah tentang perjamuan-perjamuan korban dan aniaya yang melampaui batas itu mudah-mudahan telah cukup diterangkan.

Pendalaman Teks

1. Kisah ibu dan tujuh anaknya yang mati sebagai martir untuk membela keyakinan iman ini merupakan kisah yang paling mengharukan dari kedua kitab Makabe. Raja Antiokhus IV Epifanes menjajah bangsa Yahudi dengan penuh kekerasan. Kekerasan juga diperlakukan dalam bidang agama. Bangsa Yahudi dipaksa untuk menyembah dewa-dewa Yunani dan dipaksa melanggar perintah Taurat. Pada suatu kali dihadapkan kepadanya seorang ibu dengan tujuh anak laki-lakinya. Raja Antiokhus memaksa mereka melanggar Taurat. Mereka diperintah untuk memakan daging babi, yang bagi orang Yahudi termasuk daging haram. Jika mereka tidak mau menaati perintah raja, mereka akan dihukum mati dengan siksaan yang amat mengerikan. Algojo sudah siap untuk memotong-motong tubuh mereka dan memasukkannya ke dalam kuali penggorengan. Hukuman yang amat biadab itu dipakai sebagai ancaman, namun ibu dan ketujuh anak itu tetap teguh pada Hukum Taurat. Mereka lebih memilih mati dengan cara yang amat mengerikan itu daripada melanggar hukum Tuhan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Anak yang pertama menanggapi perintah raja dengan penuh ketegasan dan keberanian. Mereka lebih baik mati daripada melanggar hukum nenek moyang. Anak pertama yang menjadi juru bicara bagi saudara-saudaranya itu dihukum mati dengan cara mengerikan, disaksikan oleh ibu dan saudara-saudaranya. Ibu dan saudara-saudaranya tidak menjadi takut dan kehilangan iman kepercayaan. Sebaliknya, mereka justru berniat untuk mati secara perwira demi mempertahankan iman. Satu per satu anak-anak itu dibunuh dengan kejam dan mengerikan. Tinggallah anak bungsu dengan ibunya. Raja berpikir, anak bungsu dan ibunya akan ketakutan lalu memilih menaati perintah raja. Namun, ternyata raja salah sangka. Dengan diberi peneguhan oleh ibunya, si bungsu tetap menolak perintah raja dan memilih mati demi iman, menyusul kakak-kakaknya. Akhirnya, si bungsu itu pun dihukum mati, lalu menyusul ibunya. Apa yang didambakan ibunya kiranya terjadi. Mereka semua akan dikumpulkan lagi di dalam kehidupan kekal.

2. Kisah kematian ini ditulis dengan amat bagus dan mengharukan. Setiap tokoh memberikan argumen mendasar tentang kematian sebagai martir. Jumlah tujuh dalam tradisi Yahudi melambangkan kesempurnaan, karena itu keluarga tersebut dapat dipandang sebagai keluarga yang memberikan teladan hidup beriman yang sempurna.

3. Cerita ini dimaksudkan sebagai kisah teladan bahwa ketaatan kepada hukum Allah lebih utama daripada hidup itu sendiri. Ketaatan akan Allah dan perintah-Nya membuat para tokoh iman ini berani mengorbankan nyawa mereka. Segala bujuk rayu seperti kekayaan dan kebahagiaan duniawi serta pelbagai jabatan (2Mak 7:25) tidaklah mempan untuk menggoyahkan orang yang sungguh memiliki ketaatan iman yang sempurna.

4. Masing-masing dari ketujuh anak itu mengajukan alasan mengapa rela mati:

a. Lebih baik mati daripada melanggar hukum (2Mak 7:2)

b. Raja dapat membunuh mereka, tetapi Allah akan membangkitkan mereka dari mati (2Mak 7:9)

c. Raja dapat menganiaya mereka, tetapi Allah akan memulihkan luka-luka tubuh mereka (2Mak 7:11)

d.Hidup mereka akan dibangun kembali, sedangkan hidup raja tidak (2Mak 7:14)

e. Allah tidak akan meninggalkan umat-Nya yang setia, tetapi akan menyiksa raja dan bangsanya (2Mak 7:16-17)

f. Mereka bersedia menderita sebagai silih karena berdosa sebagai bangsa (2Mak 7:18-19)

g. Kematian seorang yang dengan tegar membela imannya, membawa keselamatan bagi seluruh bangsanya (2Mak 7:37-38)

5. Peranan seorang ibu dalam kisah ini juga tampak nyata, bahkan penting dalam memberikan semangat serta menyiapkan anak-anaknya untuk berani menyambut kematian mereka. Ibu mendorong anak-anaknya untuk tetap setia dengan mengingatkan mereka akan kekuasaan Allah untuk mencipta dan memulihkan kehidupan (2Mak 7:22-23.27-29)

6. Sebagai seorang ibu, ia menyadari bahwa hidup manusia merupakan suatu anugerah yang diberikan Tuhan, yang diberikan sejak dalam kandungan, meskipun hidup itu sendiri perlu diperjuangkan. Akan tetapi, berhadapan dengan ancaman yang menjauhkannya dari hukum Allah, hidup itu harus dikorbankan demi kesetiaan dan ketaatan kepada-Nya agar kebangkitan badan dan kehidupan kekal diterimanya kembali.

7. Mati sebagai martir mengubah hidup dan membuahkan kehidupan karena kesetiaan kepada Allah dan berkebalikan dengan raja yang melawan Allah akhirnya mengalami kekalahan dan kematian.

Sharing

Beberapa pertanyaan yang bisa membantu, misalnya:

1. Apakah pokok masalah yang dihadapi oleh ibu dan ketujuh pemuda yang ada dalam kisah tersebut? Bagaimana ibu dan ketujuh anaknya itu menanggapi permasalahan tersebut? Mengapa ibu dan ketujuh anaknya tersebut berani untuk mati?

2. Siapakah ‘raja Antiokhos” untuk zaman sekarang ini?

3. Makan daging babi pada waktu itu diharamkan, dianggap melanggar perintah hukum Taurat. Pelanggaran macam apakah yang menjadi godaan bagi kita di zaman sekarang?

4. Bagaimana cara kita membangun kesetiaan dan keberanian sebagai saksi iman di zaman ini?

5. Bagaimana peranan atau cara konkrit Anda dalam membimbing dan meneguhkan iman anak?

Peneguhan

1. Keluarga merupakan basis utama hidup beriman setiap anggotanya. Mendidik setiap anggota agar memiliki iman yang kuat di zaman ini merupakan tanggung jawab orang tua pertama-tama seperti yang dilakukan oleh ibu dalam kisah Makabe tersebut kepada ketujuh anaknya.

2. Keberanian membela ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya membutuhkan semangat kemartiran (kesaksian iman yang ditandai dengan pengorbanan diri) dalam hidup kita: Kemartiran dalam hal meninggalkan egoisme, kemartiran dalam melayani tanpa pamrih, kemartiran untuk mengembangkan cinta kepada Allah dan sesama.

3. Semangat kemartiran ini didasari pada harapan akan kebangkitan dan kehidupan kekal yang disediakan Allah dalam Yesus Kristus. Kita berjuang untuk setia kepada Allah di dunia ini supaya kita memperoleh (pantas menyambut) ganjaran surgawi yang disediakan-Nya bagi kita.

Sumber: BKS 2009 — KOMISI KITAB SUCI KAS

http://renunganpagi.blogspot.com

Entry filed under: Katolik, Keuskupan Agung Semarang. Tags: , , .

Bulan Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang Misa Perpisahan Umat KAS Dengan Mgr Suharyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Terbaru :

Pengunjung :

  • 39,891

Langganan :

Ad Maiorem Dei Gloriam

%d blogger menyukai ini: