Allah Menyelamatkan Penulis Dari Bom Marriott

Juli 21, 2009 at 3:16 pm 1 komentar

Melihat bom Marriott jilid dua, penulis teringat dengan penyerangan bom Marriot jilid satu. Tadinya dilarang isteri untuk menuliskannya di Kompasiana, cukup disyukuri saja katanya.  Tetapi mengingat kisah ini adalah sebuah kebesaran dan ridho Allah, penulis akhirnya menuliskannya juga, dengan harapan bermanfaat bagi pembaca dalam mensyukuri kebesaran Allah dan selalu mohon perlindunganNya. Bom Marriott jilid dua diledakkan oleh pelaku yang ikut bunuh diri didalam Lounge hotel. Kapasitas ledakkan hanya menghancurkan bagian dalam hotel dan kaca-kaca bagian muka. Pada Bom Marriott pertama, 5 Agustus 2003 sekitar pukul 12.45 WIB, adalah bom bunuh diri dengan mobil kijang yang diparkir disebelah restoran Syailendra Marriott. Pada bom pertama,  dari keterangan beberapa yang selamat dalam peledakan tersebut, begitu bom meledak, terjadi gelombang api yang bergulung kedalam restoran tersebut. Membakar dan menghanguskan apa saja yang dilewatinya. Selain itu juga merusak sebagian hotel, loby dan sebagian bangunan Plaza.

Bom Marriott pertama menyisakan sebuah kenangan yang sangat mendalam kepada penulis. Kisahnya seperti ini. Penulis pada tanggal 4 Agustus 2003 bertugas mendampingi Menteri Pertahanan Matori Abdul Djalil (Alm) melakukan kunjungan kerja ke Banjarmasin. Dalam penugasan di Dephan saat itu penulis mendapat kepercayaan dari  Menhan Matori sebagai  penasihat Menhan bidang intelijen. Sebelum berangkat ke Banjarmasin, isteri menyampaikan bahwa rekan-rekan satu angkatan dari AKABRI Udara 1970 yang tergabung dalam paguyuban Purboyo akan mengikuti kuis Siapa Berani pada pagi tanggal 5 Agustus 2003. Kemudian isteri  minta ijin apakah selesai kuis, semua 12 pasang teman suami isteri bisa ditraktir makan siang. Penulis menyatakan setuju, sesuai dengan permintaan teman-teman, mereka minta ditraktir “buffe” di Restoran Syailendra di Hotel Marriott. Penulis menyuruh sekretaris untuk memesan tempat untuk 26 orang di Restoran Syailendra di Hotel Marriott. Karena jumlahnya banyak, akan disiapkan meja di bagian bawah restoran.

Pada tanggal 5 Agustus 2005 pagi penulis dalam perjalanan dari Kota Banjarmasin ke Bandara, dalam perjalanan kembali ke Jakarta, mendapat tilpon istri yang meminta  agar makan siangnya dipindah saja ke Hotel Shangrilla. Pada awalnya penulis keberatan, karena semua sudah dipesan di Marriott itu, tetapi entah mengapa isteri tetap memaksa, dengan alasan sudah bosan di Marriott. Ya sudah, penulis akhirnya menyetujui. Dan kembali memerintahkan sekretaris agar rencana acara makan siangnya di pidah ke Shangrilla. Sesampai di Jakarta, penulis meminta ijin Menteri untuk berkumpul makan siang dengan teman-teman di hotel Shangrilla.

Pada saat makan beramai-ramai dengan teman-teman dan isterinya masing-masing, mendadak didapat berita bahwa  pada jam 12.45 WIB telah terjadi bom bunuh diri di samping Restoran Syailendra Hotel Marriott. Restoran hancur lebur terpanggang oleh api. Tempat yang semula disiapkan dan di “reserve”  untuk rombongan hangus terbakar. Api  bergulung demikian besarnya, berasal dari inti ledakan dimobil yang menjalar dengan cepat kedalam restoran. Saat itu, tidak ada yang dapat diucapkan oleh penulis, isteri dan teman-teman itu, kecuali beristighfar…dan mengucapkan syukur Alhamdulillah telah  pindah dari Marriott. Tidak bisa dibayangkan apabila kita tetap makan disana, dan tidak pindah tempat, pasti akan sangat mengerikan sekali. Entah bagaimana jadinya nasib dua Marsekal Muda, lima Marsekal Pertama dan enam Kolonel Purnawirawan bersama isterinya masing-masing.

Hingga malam harinya penulis masih termenung…inilah sebuah karunia Allah Swt. Sebuah kebesaran Allah.  Kenapa, pagi hari isteri menilpon ke Banjarmasin?, suatu hal yang tidak pernah dikerjakannya. Dengan kondisi diperjalanan dimana signal HP tidak stabil, hubungan kepenulis bisa berlangsung. Kenapa penulis akhirnya setuju pindah?. Kenapa semua teman tidak keberatan pindah?. Kenapa restoran di Shangrila tidak penuh?  Kenapa dan kenapa? Itulah pertanyaan yang sangat sulit dijawab. Kita hanya percaya, Allah yang maha tahu, Maha Besar, Maha Kuasa….. Semua yang terjadi adalah pertolongan dari Allah, semua itu merupakan rahasia  Allah. Karena itu penulis sengaja memposting foto keluarga tersebut, sebagai rasa syukur…rasa kebahagiaan keluarga masih bisa terus berkumpul. Penulis  hingga kini masih terasa ngeri bila mengingat peristiwa  itu. Apabila saat itu dalam proses komunikasi mengalami sedikit saja  hambatan, acara makan di Marriott pasti tetap dilaksanakan…. Allahu Akbar.

Apa yang bisa didapat dari kisah ini?. Di dalam hidup, hanya kepada Tuhan kita memohon, kita percaya bahwa hidup dan mati seseorang sudah ada ketentuannya, kalau memang belum waktunya, Allah akan memberikan jalan penyelamatan, dihindarkan dari bahaya. Penulis percaya, mendadak berubahnya keputusan isteri pagi tanggal 5 Oktober itu adalah atas petunjuk Allah semata. Waktu yang demikian kritis pagi tanggal 5 Agustus itu telah dijalani dengan benar. Kalau memang sudah waktunya, bersembunyi kelubang semutpun kita akan dikejar malaikat maut. Yang kita percayai dan kerjakan adalah terus berdoa, agar kita dijauhkan dari mara bahaya, diberi perlindungan, diberi kebersihan hati dan memohon ampun kepadaNya. Setiap waktu kita bisa dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa,  dengan berbagai macam jalan yang tidak bisa kita tolak.

Manusia, selama dia hidup senantiasa akan mendapat ujian dan cobaan dari Allah. Untuk itu Kita harus tetap tawakal, tabah, ikhlas dan agar dijauhkan dari kesombongan. Kini, bangsa kita kembali mendapat ujian, terjadi serangan bom bunuh diri yang jelas akan memberikan efek negatif kepada bangsa ini. Kita boleh kesal, tetapi kita harus percaya bahwa ujian dari Tuhan akan terus datang silih berganti. Termasuk pada saat kita akan berbuat baik sekalipun. Makin tinggi kita berada, ujian jelas akan semakin keras dan berat, bak pohon, semakin tinggi, angin akan menerpa pucuknya semakin keras.

Pemimpin harus siap bergoyang dan digoyang oleh ujian. Karena itu jangan kita marah, jangan emosi,  dudukkan saja ujian itu pada porsi yang pas dan benar.  Berjuta-juta penduduk kini bersandar kepada pemimpin yang tabah dan berani. Mereka bergantung dan mendambakan kearifan, kesabaran, kesantunan dan keikhlasan. Dan yang jelas, bangsa ini harus makin giat  berdoa, mohon perlindungan…. Allah yang Maha Adil, sesuai dengan janjinya akan memberi kepada mereka yang memohon kepadaNya. Kita harus percaya ini, kejahatan pada akhirnya akan mendapat balasan yang setimpal mestinya. Kita harus percaya itu karena kita adalah bangsa yang beragama dan beradab.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Entry filed under: Religi, Renungan. Tags: , , .

Bandara Terbaik Di Dunia

1 Komentar Add your own

  • 1. Prayitno Ramelan  |  Juli 22, 2009 pukul 8:32 am

    Mbah Justinus….terima kasih tulisan saya yang sederhana ini di posting di blog-nya…artinya penting dan bagus kan ya? hehehe…iya deh Mbah, ada lagi tulisan saya di kompasiana tentang kehidupan, tolong dilihat di archive guest blogger, judulnya “Mensyukuri Nikmat Tuhan”, tolong dibaca ya…Gitu deh Mbah…salam hangat>Pray

    Bukan hanya penting dan bagus pak, tapi sungguh menyentuh hati saya … sebuah pengalaman iman yang sungguh dalam

    Terima kasih sudah berkunjung pak Pray, salam buat bapak dan keluarga

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Terbaru :

Pengunjung :

  • 39,891

Langganan :

Ad Maiorem Dei Gloriam

%d blogger menyukai ini: