CEO: YESUS van NAZARET – Kisah, Perjumpaan, dan OB

Juli 11, 2009 at 11:41 pm 1 komentar

Berikut adalah tulisan Agustinus Budi Nugroho, S.J. salah seorang dari 6 frater yang pada rabu 29 Juli 2009 akan ditahbiskan oleh Mgr I Suharyo di Gereja St Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta

Semoga semangat St Ignatius “Ite inflammate omnia ! – Pergilah, kobarkan seluruh dunia !” senantiasa mengobarkan semangat hidup membiara orang muda Indonesia

Proficiat Yubileum 150 tahun Jesuit di Indonesia 9 Juli 1859 – 9 Juli 2009

Perjumpaan itu terjadi tiga belas tahun yang lalu. Waktu itu, aku masih seorang remaja culun dan agak bloon. Kejadiannya sore hari, saat itu aku lagi thengak-thenguk dengan muka kusut khas pemuda yang kehilangan orientasi. Dia datang menyapaku. ”Lagi bingung nih?”, sapanya. ”He..eh!” jawabku agak cuek. ”Mau yang asyik!” sambungnya. Wuih siapa orang ini? Jangan-jangan tukang jual putauw. ”Ndak, aku ndak jual apapun!”. Gile Dia tau. Lalu mau apa? ”Aku pengin hidupmu lebih asyik aja! Mau ndak!” katanya. Kalau aku mau, emang kamu bisa membuat hidupku lebih asyik!” sergahku. ”Tergantung seberapa besar kemauanmu!” sahutNya tangkas. Aku coba pandangi orang itu dan orang itu juga memandangku dalam-dalam. Sepintas aku baca name tag-nya tertulis: Yesus van Nazaret, dibawahnya ada tulisan: CEO (Chief Executive Officer). Ini seorang bisnisman pikirku. ”Yesus”, aku langsung teringat jangan-jangan Dia yang punya ”Company of Jesus” alias Compagnia de Gesù atau Serikat Yesus. Aku langsung terhenyak mataku terbelalak.

”Tuan seorang pebisnis?”

”Bisa dikatakan begitu!”

”Apa bisnis tuan untukku?”

” Keselamatan!”

Keselamatan? Aku heran sambil tersenyum geli.Wah orang ini salah. Masak aku yang ndak punya tampang serem mau diajak bisnis ”security”.

”Wah Tuan salah orang! Saya ini ndak punya cita-cita jadi polisi apalagi tentara! Kok Tuan ajak saya bisnis keselamatan!”

”Ndak, Aku ndak salah orang! Aku mengajak kamu bisnis Penyelamatan Jiwa-jiwa.”

Busyet, bisnis apa lagi itu? Aku pikir itu bisnis moda transportasi. Mungkin Mr. Yesus van Nazaret ini punya perusahaan oto Bus. Kalau itu yang dimaksud, aku mau karena sejak kecil aku senang nonton dan naik bus AKAP. Bus Mania bo! Tapi, aku kok ndak pernah dengar ada PO Yesus ya!?? Kalau PO Joko Kendil, PO Handoyo, PO Slamet aku tahu. Tapi Bus Yesus atau Bus Serikat Yesus ndak pernah aku lihat!

“ Pokoknya, hidupmu adalah bisnisku! Itu saja. Nih, aku beri buku, ambil dan bacalah!” Dia ngeloyor pergi sembari meninggalkan buku berjudul: ”Karisma-karisma Ignatian dalam Konstitusi Serikat Yesus”
Wah keukeuh juga tu orang. Wong remaja culun nan bloon, tahu dunia aja belum diajak bisnis. Bakal rugi tu orang. Kemudian aku baca buku itu. Ada istilah ”magis”. Weleh-weleh…ini sih soal ”jiwa” alias roh-roh halus. ”Lepas bebas” alias roh-roh bergentayangan. Tapi setelah aku baca, kok ini kayak manual hidup harian. Sambil aku baca, aku terapkan dengan cara yang gue banget. Uups…bertuah juga kata-kata itu!

Beberapa waktu kemudian, Mr. Yesus van Nazaret datang menemuiku. ”Gimana, sudah kamu baca! Asyik to!” Statement dilematis. Kalau aku jawab iya, pasti Dia sudah siap dengan langkah berikut. Maklum bisnisman gitu loh! Tapi kalau aku jawab tidak. Aku menipu diri. Akhirnya, aku join dengan Dia dalam bisnis Penyelamatan Jiwa-jiwa dalam ”Company of Jesus”. Dua tahun awal aku ikut training di Ungaran. Di rumah yang disebut novisiat, aku mencoba menangkap apa yang Dia maksud. Tapi aku kebingungan. Bisnisnya Penyelamatan Jiwa-jiwa tapi saban hari disuruh ngosek WC, ngarit, ngepel lantai. Aku jadi OB (Office Boy) disini. Emang ada jiwa yang kecemplung di kloset? Atau sembunyi dibalik reremputan? Satu kali, aku malah disuruh jadi kuli bangunan. Aku juga di up-grade dengan menjalankan retret 30 hari silentium magnum. Setelah itu, aku mulai sedikit dong! Aku mulai menangkap apa yang dimaksud dengan bisnis itu. Yang jelas di tempat itu aku menjadi sedikit lebih beriman. Bagaimana tidak beriman, setiap hari Senin harus menuntun sepeda onthel menembus hutan karet. Kalau Mak Lampir atau Kuntilanak liat pasti akan tertawa cekikan dan bilang ”Kacian deh lu!”.

Masa itu akhirnya berakhir. Aku pindah ke kota metropolitan. Jakarta aku datang! Aku berguru pada guru-guru kebijaksanaan di sekolah filsafat mazhab Jembatan Serong. Di sini malah aku diajak mempertanyakan emangnya jiwa itu ada kok mau menyelamatkan segala. Kali ini aku ’ditraining’ oleh para pakarnya. Tidak tanggung-tanggung, Mr. Yesus van Nazaret menyuruh Prof. Louis Leahy untuk menjawab soal itu.

Masa itu lewat, akhirnya aku dipercayai sebagai perekrut anggota baru. Aku disuruh kembali ketempat perjumpaan kita. Aku diminta untuk berjumpa dengan para remaja yang memiliki ”kerinduan suci”. Aku juga ndak tega kalo harus tebar pesona dan memberikan janji-janji nanti dikirain kampanye. Pokoknya kita buat asyik aja. Anak-anak suka gaul, mari kita gaul. Mereka ”gibol” alias gila bola, oya kita main bola. Eh, ternyata masih ada loh anak-anak yang kesengsem sama Mr. Yesus van Nazaret. Mereka akhirnya deal dengan Yesus lalu bilang: ”Yesus aku mau mengikuti-Mu, kemanapun Engkau pergi!”

Masa itu berakhir dan aku harus ’ditraining’ lagi. Mungkin karena aku masih belum juga menangkap apa sih inti bisnis ini. Memang bisnis Penyelamatan Jiwa-jiwa ini tidak sembarangan. Mr. Yesus van Nazaret pokoknya total. Aku masih harus ’ditraining’ lagi di sekolah teologi pontifikal; sekolah ini dibawah supervisi Gereja Katolik Roma. Menjelang akhir program, aku dengar bisik-bisik bahwa aku mau diangkat. Promosi jabatan kali yah! Mendengar itu aku mencoba mengenal Mr. Yesus dari Nazaret ini lebih dekat. Apalagi Compania de Jesu ini punya hasrat ”mengenal dan mengikutiNya lebih dekat.” Maka, diakhir program aku membuat tulisan akhir tentang figur Yesus dari Nazaret. Aku berpikir supaya nanti kalau bertemu dan bertanya jawab dengan Dia aku memiliki jawaban.

Bayanganku waktu itu pasti nanti aku jadi direktur kalau tidak manajer. Memang benar, aku dipanggil untuk bertemu dengan Yesus van Nazaret. Aku berjumpa denganNya dan bercakap-cakap tentang bisnis hidup yang sedang aku jalani denganNya. Dia mendengar segala harapan dan kerinduanku. Akhirnya, Dia memberiku Surat Keputusannya sebagai CEO. Surat itu aku buka dan kubaca. Melalu surat ini, saya mengangkat Sdr. Agustinus Budi Nugroho sebagai PELAYAN. Aku terkejut. Untuk apa aku bersusah payah selama ini. Untuk apa aku harus ’ditraining’ lama sekali kalau hanya untuk menjadi PELAYAN. Ini sih bukan promosi jabatan tapi kembali menjadi OB, Office Boy lagi!

Melihat rona keterkejutanku, Mr. Yesus van Nazaret berujar: ”Seperti Aku telah melayanimu sebagai ”pribadi” selama ini. Aku juga mau kamu menjadi pelayan Pribadi-Ku dan pelayan pribadi-pribadi.” Kata-kata ini mengingatkanku dengan begitu banyak perjumpaan dengan pribadi-pribadi yang telah membentuk diriku menjadi pribadi seperti ini. Mr. Yesus van Nazaret pasti sudah mengatur segala perjumpaan itu. Ada orang tua dan keluargaku; ada para kawan dan pengajar (SD St. Maria-SMP St. Mikael, Cimahi); ada kawan sepanggilan dan pembina di Seminari St.Petrus Kanisius, Mertoyudan; ada para pembina dan sahabat-sahabat dalam Tuhan di Serikat Yesus. Aku teringat pula akan berbagai kisah dan perjumpaan di Perkampungan Sosial Pingit. Wah, ini sebuah kepercayaan yang luar biasa. Perjumpaan itu mengobarkan hatiku untuk menjadi ”Pelayan Pribadi dan pribadi-pribadi.”

Itulah kisah perjumpaan hati yang menyulut kobaran…..siapa yang akan menyambungnya? Serikat Yesus ingin mendengarkan kisah itu.


tulisan tertahbis yang lain dapat dibaca di http://www.provindo.org/


Entry filed under: Katolik. Tags: , , , .

Yubileum 150 tahun Jesuit di Indonesia RASA RENDAH HATI

1 Komentar Add your own

  • 1. Ebet Renwarin  |  Agustus 17, 2010 pukul 10:29 am

    Luar biasa cerita. Sungguh mengispirasi. Sy ebet baru lulus kulia di Universitas Katolik Atma Jaya Makassar, sy sekarang kerja di Perusahaan Korea. Sy sering membaca artikel atau berita mengenai karya-karya pastoral Jesuit. Sy perna berjumpa dengan 2 orang romo jesuit ( Romo Adi dan romo Yumartana) di situ sy berjumpa dengan pribadi yg banyak memberi dan membentuk kepribadian saya. Dua romo jesuit itu sangat sederhana, berkharisma. Thanks ya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Terbaru :

Pengunjung :

  • 39,891

Langganan :

Ad Maiorem Dei Gloriam

%d blogger menyukai ini: