MENUJU KEDALAMAN TATAR SUNDA

Juli 21, 2008 at 9:42 pm Tinggalkan komentar

Perkenalan Uskup Bandung

Kamis, 17 Juli 2008,

di Gedung Serbaguna Universitas Katolik Parahyangan Bandung

ORASI SINGKAT

MENUJU KEDALAMAN TATAR SUNDA

Yang Terhormat Sekretaris Daerah Bp. Lex Laksamana, yang mewakili Gubernur Provinsi Jawa Barat,

Yang Terhormat Yang mewakilik Pangdam, dan Kapolda Jawa Barat,

Yang Terhormat Jajaran Muspida dan DPRD Provinsi Jawa Barat,

Yang Terhormat para pejabat pemerintah,

Yang Terhormat Ibu Rektor Universitas Katolik Parahyangan, Ibu Caecilia Lauw, dan Civitas Academica Parahyangan,

Yang Terhormat para tokoh masyarakat Bandung, Bp. Jacob Sumardjo,

Yang Terhormat para tokoh umat beragama, Pangeran Djati Kusumo, Mgr. Mikhael Angkur,

Yang Terhormat para tamu undangan, serta segenap anggota Panitia Tahbisan,

Pertemuan kali ini menjadi kesempatan bagi saya untuk memperkenal diri saya kepada para pemimpin lembaga pemerintah dan lembaga agama serta seluruh masyarakat Jawa Barat. Nama saya Johannes Pujasumarta. Saya berasal dari Surakarta Jawa Tengah, diutus oleh Pemimpin Gereja Katolik, Bapa Suci Benediktus XVI  datang di Jawa Barat ini untuk menggembalakan umat Katolik Keuskupan Bandung. Kemarin Rabu, 16 Juli 2008, telah diselenggarakan upacara tahbisan Uskup di Sasana Budaya Ganesha.

Sejak masih belajar di sekolah nama kota Bandung telah diperkenalkan oleh para guru sebagai kota yang mengesankan. Di Bandung telah diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT Asia-Afrika; kadang juga disebut Konferensi Bandung) yang berlangsung antara 18 April24 April 1955.  Menteri Luar Negeri Indonesia pada waktu itu, Roeslan Abdulgani, mengkoordinasikan konferensi tingkat tinggi antara negara-negara Asia dan Afrika (Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan) yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. Negera-negara muda itu bersepakat  mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme atau negara imperialis lainnya. Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961 ketika perang dingin berlangsung. Saya merasa itu adalah pilihan cerdas dan berani untuk menghadapi tantangan-tantangan berat yang muncul dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Dari peristiwa itu kita belajar cara cerdas untuk hidup bersama, untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah secara bersama pula, serta untuk mengambil langkah-langkah bersama yang kreatif demi kebaikan bersama pula. Kiranya api semangat Bandung perlu kita nyalakan dalam hati kita masing-masing ketika kita menghadapi masalah-masalah serta tantangan-tantangan hidup dewasa ini. Kehadiran Ibu dan Bapak serta saudari dan saudara pada kesempatan ini merupakan tanda yang mengesankan bahwa kita semua mempunyai kehendak kuat untuk membangun hidup bertetangga yang baik demi kebaikan bersama.

Sekarang ini saya di Bandung, dan menjadi warga masyarakat Bandung. Saya bahagia dan bangga menjadi bagian dari kenyataan Bandung. Bersama seluruh umat Katolik Keuskupan Bandung saya menyadari betul bahwa kami adalah bagian utuh dari masyarakat Jawa Barat. Karena itu, kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan kami juga (bdk. GS 1). Agar sambung rasa terjadi, rasa senasib sepenanggungan terbangun, perlu kita kembangkan bersama jembataan-jembatan dialog kemanusiaan, yang tentu telah dirintis oleh pendahulu saya, almarhum Mgr. Alexander Djajasiswaya dengan para pemimpin masyarakat dan agama di Jawa Barat ini. Dan sekarang ini kami umat Katolik sebagai bagian utuh dari masyarakat Jawa Barat akan memperjuangkan juga visi bersama: “Terwujudnya Masyarakat Jawa Barat yang Mandiri, Dinamis, dan Sejahtera”.

Bandung ini juga terletak di wilayah Parahyangan, yang maknanya menjadi tempat untuk menyembah Allah Hyang  Mahaesa, yang menjadi asal mula dan tujuan segala yang ada. Kepercayaan kepada Hyang Mahaesa itulah yang diungkapkan dalam berbagai agama yang dianut masyarakat dewasa ini. Kami menyadari pula membangun hidup beragama dewasa ini berada dalam ancaman-ancaman global: komunalisme, sekularisme, fanatisme, dll. Karena itu, kami ingin berupaya pula melaksanakan misi bersama Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, secara khusus dalam kehidupan beragama dengan “menyuguhkan kehidupan beragama yang rukun, toleran, dan penuh kesejukan” (butir f misi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat).

Jembatan-jembatan dialog kemanusiaan akan kokoh terbangun atas dasar nilai-nilai budaya yang berciri majemuk pula. Dialog yang sejati merupakan pembicaraan mendalam untuk menggali dan menemukan kearifan lokal yang menyentuh inti kemanusiaan itu sendiri. Dalam lambang Uskup ada gambar bendo, ikat kepala pria Sunda. Lambang tersebut menyimpan suatu narasi mengesankan tentang Aji Saka. Seorang utusan yang pergi ke Nusantara, ke Tanah Jawa. Bersama abdinya berkeliling, menjelajahi wilayah Medang Kamulan, yang dipimpin oleh Raja Dewata Cengkar. Rakyat dicekap rasa takut karena kebengisan Sang Raja yang adiktif, ketagihan menyamtap daging manusia, gara-gara juru masak memasak sop enak, yang ada daging, potongan jarinya sendiri. Berhadapan dengan situasi mencekam tersebut Aji Saka menyediakan tubuhnya untuk dimakan Sang Raja demi keselamatan seluruh rakyat yagn tidak bersalah. Kesediaan itu bersyarat, syaratnya Aji Saka meminta tanah seluas ikat kepalanya. Dan terjadilah, ketika ikat kepada dibentangkan, menjadi luas sekali, sampai ke pesisir selatan, dan Dewata Cengkar dijengkangkan ke laut. Dan oleh rakyat Aji Saka dinobatkan menjadi Raja Tanah Jawa. Sikap Aji Saka memberikan hidupnya untuk keselamatan seluruh rakyatnya mengilhami saya untuk taat setya sampai mati menunaikan tugas perutusan di Tatar Sunda ini. Di dalam kearifan budaya lokal itulah kita menyadari, bahwa kita manusia, perempuan dan laki-laki ini, diciptakan untuk membangun kehidupan bersama yang bersaudara,  dalam keadilan dan kedamaian.

Kenyataan yang mencemaskan kita bersama dewasa ini juga adalah kenyataan kemiskinan, karena disebutkan sebagai data bahwa Jawa Barat memberi kontribusi sebesar 33% pada angka kemiskinan nasional 2007. Semoga kesediaan kita untuk membangun hidup bersama yang bersaudara dalam keadilan dan kedamaian menjadi daya kekuatan untuk memperkokoh solidaritas dengan kesediaan untuk berbagi secara rela dan murah hati.

Ternyata kesempatan perkenalan ini telah menjadi kesempatan untuk menyatakan kesediaan kami umat Katolik untuk memperjuangkan juga visi bersama: “Terwujudnya Masyarakat Jawa Barat yang Mandiri, Dinamis, dan Sejahtera”.

Terimakasih saya haturkan kepada Ibu Bapak, saudari-saudara semua atas perhatian dan kehadiran Anda pada kesempatan ini. Terimakasih kepada Panitia Tahbisan Uskup, khususnya Penyelenggara Pertemuan Perkenalan ini, Keluarga Besar Universitas Katolik Parahyangan, yang telah menyediakan tempat, personalia dan segala fasilitasnya sehingga pertemuan perkenalan ini berlangsung dengan baik.  Kita berharap semoga Universitas Katolik Parahyangan ini dapat membuahkan dan mempersembahkan sumbangan-sumbangan terbaik melalui pengembangan  ilmu pengetahuan dan tehnologi kepada seluruh masyarakat.

Semoga waktu juga membantu kita untuk memperdalam perkenalan ini menjadi semakin akrab, dan bermakna bagi pembangunan Jawa Barat khususnya, dan Indonesia pada umumnya dengan api semangat Konferensi Bandung. Berkat Tuhan melimpah bagi kita semua,

Bandung, 17 Juli 2008

+ Johannes Pujasumarta

Uskup Keuskupan Bandung

Sumber : Mgr Yohanes Pujasumarta

Entry filed under: Katolik. Tags: .

Seorang ibu mencari foto anaknya Novena Santo Ignatius Loyola

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Terbaru :

Pengunjung :

  • 39,891

Langganan :

Ad Maiorem Dei Gloriam

%d blogger menyukai ini: