Tulisan tulisan yang dikaitkan (tagged) Vatikan
Paus Serukan untuk Membantu Korban Bencana Alam di Asia dan Pasifik

KOTA VATIKAN (UCAN) — Paus Benediktus XVI menyerukan kepada Gereja Katolik di seluruh dunia dan masyarakat internasional untuk membantu mereka yang sedang menderita akibat “bencana alam hebat” belakangan ini di Asia Tenggara dan Pasifik.
“Saya mengajak semua orang bersama saya dalam doa bagi para korban dan orang-orang yang mereka kasihi,” kata Paus kepada ribuan peziarah dari berbagai negara, yang berada di Basilika Santo Petrus pada 4 Oktober untuk mendapat berkatnya.
“Secara spiritual saya dekat dengan orang-orang yang kehilangan tempat tinggal dan bagi semua orang yang mengalami cobaan (karena bencana-bencana ini), dan saya berdoa kepada Allah untuk menolong mereka dalam penderitaan,” katanya, ketika berbicara dari jendela perpustakaannya di Vatikan.
“Saya menyerukan agar solidaritas kita sendiri dan dukungan masyarakat internasional tidak pernah berkurang bagi orang-orang ini,” kata paus dalam sebuah pesan yang disiarkan melalui TV dan radio bagi audiens internasional.
“Saat ini pikiran saya tertuju pada penduduk Pasifik dan Asia Tenggara yang terkena bencana alam yang hebat di hari-hari belakangan ini,” katanya.
Paus mulai dengan menyinggung mereka yang menderita akibat “tsunami di kepulauan Samoa dan Tonga” di Pasifik selatan, yang sedikitnya 176 orang meninggal setelah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 8.0 skala Richter di dasar laut pada 29 September.
Paus juga meminta perhatian untuk Asia Tenggara, memperhatikan orang-orang yang menderita akibat “topan di Filipina, yang setelah itu menghantam Vietnam, Laos dan Kamboja.”
Di Filipina pada 27 September, Topan Ketsana menyebabkan kerusakan di Asia Tenggara, menewaskan hampir 300 orang dan memaksa sekitar setengah juta orang ke luar dari rumah mereka . Topan itu bergerak menghantam Vietnam yang menewaskan 162 orang dan 13 lainnya hilang. Akibat topan itu, 17 orang dinyatakan tewas di Kamboja dan 24 di Laos, demikian laporan media internasional. Filipina yang dihantam lagi Topan Parma pada 3-4 Oktober yang menewaskan 16 orang.
Berikut, Paus menyoroti bencana alam minggu lalu: “Gempa bumi yang mematikan di Indonesia.” Pulau Sumatra terkena gempa berkekuatan 7,6 skala Richter pada 30 September dan sejumlah gempa susulan yang besar. Tidak ada perkiraan yang jelas tentang korban yang tewas. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 1.100 orang.
Sebelumnya pemerintah melaporkan 715 tewas dan 3.000 hilang, namun direvisi kembali pada 4 Oktober korban tewas mencapai 603 orang dan 960 hilang. Kota Padang dengan penduduk 900.000 jiwa adalah kota dekat dengan pusat gempa dahsyat itu. Wilayah itu mengalami banyak kerusakan dengan setengah dari jumlah bangunan-bangunannya roboh, demikian media.
“Bencana ini menyebabkan kematian dalam jumlah besar, pengungsian, dan lebih banyak lagi kehilangan tempat tinggal” serta mengakibatkan “kerusakan harta benda dalam jumlah yang luar biasa,” kata Paus.
Pada 2 Oktober, Paus Benediktus mengirim telegram yang menyampaikan solidaritas dengan orang Sumatra yang menderita. Telegram itu ditandatangani atas nama paus oleh Sekretaris Negara Vatikan Tarcisio Kardinal Bertone, dan dikirim kepada Duta Besar Takhta Suci untuk Indonesia Uskup Agung Leopoldo Girelli.
Telegram itu mengatakan, paus “secara mendalam sedih ketika tahu tentang gempa bumi yang mematikan baru-baru ini yang dialami Indonesia.” Paus “berdoa untuk para korban dan keluarga mereka yang berduka, memohon istirahat kekal bagi yang meninggal, dan kekuatan dan penghiburan ilahi bagi semua yang menderita.”
Telegram itu selanjutnya mengatakan bahwa “Paus mendorong para pekerja yang memberi pertolongan dan semua yang terlibat dalam menyediakan bantuan darurat bagi para korban bencana ini untuk pantang mundur dalam usaha mereka guna membawa bantuan, penghiburan, dan dukungan.”
Seluruh bencana alam ini telah diberitakan secara luas oleh media Vatikan, dan media Katolik di Italia yang meminta sumbangan guna mendukung berbagai upaya bantuan.
Radio Vatikan memberitakan permohonan yang menggetarkan akan bantuan dari Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap yang menekankan perlunya bantuan dari masyarakat internasional.
Caritas Internasional, federasi internasional Katolik dari badan-badan bantuan Gereja, telah meminta bantuan untuk para korban di semua wilayah yang terkena bencana. Dia tengah mengkoordinasikan pertolongan bantuan bersama unit-unit Caritas di negara-negara yang terkena bencana alam itu.
Paus Benediktus juga menyebut bencana alam lain, meski lebih kecil dekat Roma, ketika ia mengingat 21 orang yang tewas dan 400 orang kehilangan rumah akibat dari banjir baru-baru ini di kota Messina, Italia bagian selatan.
![]()
Oleh Gerard O’Connell, Koresponden Khusus di Roma
1 comment Oktober 19, 2009
PESAN UNTUK AKHR BULAN SUCI RAMADHAN DAN HARI RAYA IDUL FITRI 1230H/2009AD
DEWAN KEPAUSAN GEREJA KATOLIK
UNTUK DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA

Umat Kristiani dan Umat Islam :
Bersama Mengentaskan Kemiskinan
PESAN UNTUK AKHR BULAN SUCI RAMADHAN
HARI RAYA IDUL FITRI 1230H/2009AD
Saudara-saudara Umat Islam yang terkasih,
1. Pada Hari Raya, ketika Anda sekalian mengakhiri bulan suci Ramadhan ini, kami ingin menyampaikan kepada Anda sekalian Ucapan Selamat kami, disertai dengan harapan akan kedamaian dan kebahagiaan bagi Anda sekalian. Melalui Ucapan Selamat ini pula kami ingin menyampaikan usulan tema yang kiranya dapat menjadi bahan permenungan kita bersama: Umat Kristiani dan Umat Islam: Bersama Mengentaskan Kemiskinan.
2. Ucapan Selamat Idul Fitri yang dikeluarkan oleh Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Umat Beragama seperti ini, telah menjadi tradisi yang kita pupuk bersama dan yang senantiasa menjadi kerinduan yang dinantikan setiap tahunnya. Dan ini sungguh-sungguh telah menjadi sumber kegembiraan kita bersama. Dari tahun ke tahun, di banyak Negara, hal ini telah menjadi suatu kesempatan untuk perjumpaan dari hati ke hati antara banyak Umat Kristiani dan Umat Islam. Tidak jarang pula perjumpaan itu menyapa suatu masalah yang menjadi keprihatinan bersama, dan dengan demikian membuka suatu jalan yang kodusif ke arah pergaulan yang ditandai oleh rasa saling percaya dan keterbukaan. Bukankah semua unsur ini secara langsung dapat dipahami sebagai tanda-tanda persaudaraan di antara kita, yang harus kita syukuri di hadapan Allah?
3. Berkaitan dengan tema kita tahun ini, masalah manusia yang berada dalam situasi kemiskinan adalah sebuah topik yang, dalam pelbagai iman kepercayaan, justru berada di jantung perintah-perintah agama yang kita junjung tinggi. Perhatian, belarasa dan bantuan yang kita semua, sebagai sesama saudara dan saudari dalam kemanusiaan, dapat memberikan kepada mereka yang miskin untuk membantu mereka mendapatkan tempat mereka yang sebenarnya di dalam tatanan masyarakat yang ada, adalah sebuah bukti yang hidup dari Cintakasih Allah yang Mahatinggi, sebab justru itulah yang menjadi kehendak-Nya, bahwa kita dipanggil-Nya untuk mengasihi dan membantu mereka sebagai sesama manusia tanpa pembedaan yang mengkotak-kotakkan.
Kita semua mengetahui, bahwa kemiskinan memiliki kekuatan untuk merendahkan martabat manusia dan menyebabkan penderitaan yang tak-tertanggungkan. Tidak jarang hal itu menjadi penyebab keterasingan, kemarahan, bahkan kebencian dan hasrat untuk membalas dendam. Hal itu dapat memancing tindakan-tindakan permusuhan dengan mempergunakan segala macam cara yang mungkin, bahkan tidak tanggung-tanggung memberinya pembenaran diri melalui landasan-landasan keagamaan, atau dengan merampas kekayaan seseorang bersama dengan kedamaian dan rasa amannya, atas nama apa yang dianggapnya sebagai “keadilan ilahi”. Itulah sebabnya, mengapa apabila kita memperhadapkan gejala-gejala ekstremisme dan kekerasan, tidak boleh tidak kita harus mengikutsertakan juga perihal penanganan kemiskinan dengan memajukan pengembangan manusia seutuhnya. Inilah yang oleh Paus Paulus VI disebutnya sebagai “nama baru untuk perdamaian” (Ensiklik Populorum Progressio, no. 42). Dalam Ensikliknya yang baru, Caritas in Veritate, sebuah ensiklik yang membahas pengembangan manusia secara integral melalui cintakasih dan kebenaran, Paus Benediktus XVI, sambil memperhitungkan juga usaha-usaha yang dewasa ini sedang diupayakan untuk memajukan pengembangan, menggaris-bawahi adanya kebutuhan pada “suatu sintese kemanusiaan yang baru” (no 21), yang dengan mempertahankan keterbukaannya terhadap Allah, dapat memberikan kepadanya kedudukannya sebagai “pusat dan puncak” dunia ini (no. 57). Oleh karena itu, haruslah diupayakan terciptanya suatu pengembangan yang sejati “bagi manusia seutuhnya dan bagi setiap orang” (Populorum Progressio, no. 42).
4. Dalam pidatonya pada kesempatan Hari Perdamaian Sedunia, pada tanggal 1 Januari 2009, Paus Benediktus XVI membedakan dua macam kemiskinan: yakni kemiskinan yang harus diperangi dan kemiskinan yang harus dirangkul. Kemiskinan yang harus diperangi ini diketahui oleh semua orang: misalnya kelaparan, tidak adanya air bersih, pelayanan kesehatan yang sangat terbatas, papan tempat tinggal yang kurang memadai, tatanan pendidikan dan kebudayaan yang tak memadai, tuna-aksara, belum lagi bentuk-bentuk baru kemiskinan “di dalam masyarakat-masyarak at yang kaya, di mana terdapat pula bukti-bukti masih adanya marginalisasi, seperti juga adanya kemiskinan afektif, moral dan spiritual… ” (Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia, 2009, no. 2).
Adapun kemiskinan yang harus dirangkul adalah gaya hidup sederhana dan mendasar, yang menghindarkan pemborosan dan menghormati lingkungan serta kebaikan ciptaan. Kemiskinan ini dapat juga, sekurang-kurangnya pada saat-saat tertentu dalam satu tahun, mengambil bentuk berupa laku matiraga dan puasa. Ini adalah kemiskinan yang menjadi pilihan sadar kita dan yang memungkinkan kita untuk melewati batas diri sendiri, dan memperluas wawasan hati kita.
5. Sebagai orang beriman, kerinduan untuk menjalin kerja-sama untuk mencari cara yang tepat dan dapat bertahan lama untuk memecahkan masalah pengentasan kemiskinan, tentu juga harus disertai dengan refleksi terhadap masalah-masalah berat jaman kita sekarang ini dan, apabila mungkin, juga dengan saling berbagi keprihatinan yang sama untuk mencabut sampai ke akar-akarnya permasalahan itu. Dalam pandangan ini, pembahasan tentang segi-segi kemiskinan yang terkait dengan gejala globalisasi dalam masyarakat-masyarak at kita dewasa ini, memiliki pula dampak spiritual dan moral, karena kita semua turut mengambil-bagian dalam panggilan yang sama untuk membangun satu keluarga umat manusia, di mana semuanya, baik pribadi-pribadi perseorangan, maupun suku dan bangsa, masing-masing bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip persaudaraan dan rasa tanggungjawabnya.
6. Dengan mempelajari secara seksama gejala-gejala kemiskinan tersebut, kita bukan saja akan dibawa sampai kepada asal-usul permasalahannya, yakni kurangnya rasa hormat kepada martabat koderati manusia, tetapi juga seharusnya mengundang kita untuk membentuk suatu solidaritas global, misalnya melalui penerapan suatu “kode etik bersama” (Paus Yohanes Paulus II, Pidato kepada Akademi Kepausan untu Ilmu Pengetahuan Sosial, 27 April 2001, no. 4), yang norma-normanya bukan saja memiliki karakter konvensional, tetapi yang tidak boleh tidak harus juga berakar pada hukum alam yang telah disuratkan oleh Sang Khalik sendiri di dalam hati nurani setiap orang (bdk Rom 2:14-15).
7. Rupanya, di pelbagai tempat di dunia ini, kita sudah melewati jenjang toleransi dan memasuki era pertemuan bersama, mulai dengan pengalaman-pengalaman hidup yang kita hayati bersama dan dengan berbagi keprihatinan nyata yang sama pula. Ini merupakan sebuah langkah maju yang penting.
Dalam membagikan kepada setiap orang kekayaan hidup doa kita, puasa kita dan saling cintakasih kita satu sama lain, tidak mungkinkah hal ini semua akan semakin menjadi daya dorong bagi dialog dari orang-orang yang justru sedang berada dalam ziarah menuju kepada Allah?
Kaum miskin bertanya kepada kita, menantang kita, tetapi di atas semuanya itu mereka mengundang kita untuk bekerja-sama untuk urusan masalah yang mulia ini, yakni mengentaskan kemiskinan.
Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Jean-Louis Cardinal Tauran
Ketua
Uskup Agung Pier Luigi Celata
Sekretaris
Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Umat Beragama
00120 Kota Vatikan
Tel: +39.06.6988 4321 / 06.6988 3648
Fax: +39.06.6988 4494
E-mail: dialogo@interrel.va
Teks asli silahkan klik disini
1 comment September 19, 2009
Mgr I Suharyo Uskup Agung Koajutor Keuskupan Agung Jakarta
Berikut surat Keuskupan Agung Jakarta perihal pengangkatan Mgr I Suharyo oleh Paus Benedictus XVI sebagai Archbishop Coajutor – Uskup Agung Koajutor Keuskupan Agung Jakarta
Sumber : Keuskupan Agung Jakarta
Add comment Juli 27, 2009


