Posts tagged ‘Spiritualitas’

Hari Raya Maria diangkat ke dalam kemuliaan surgawi

Bunda Maria

Injil Minggu 9 Agustus 2009 (Luk 1:39-56)

Hari Raya Maria diangkat ke dalam kemuliaan surgawi

DAPATKAH FIRDAUS PULIH KEMBALI ?

Empat hal mengenai Maria dinyatakan sebagai ajaran iman. Dua dari zaman para Bapa Gereja: (1) Maria tetap Perawan, (2) Maria Theotokos – Maria mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus, dan dua lainnya dari abad 19 dan 20 meskipun sudah dirayakan sejak berabad-abad sebelumnya, yaitu: (3) Maria dikandung tanpa noda dosa asal (dinyatakan sebagai ajaran iman tahun 1854) dan (4) Maria diangkat ke surga jiwa dan badan. Yang terakhir ini baru resmi dinyatakan sebagai bagian ajaran iman Gereja Katolik pada tahun 1950 meski sudah dirayakan di pelbagai tempat sejak abad ke-4.

MENEMUKAN YANG HILANG

Merayakan peristiwa Maria diangkat ke surga dapat menjadi ungkapan kepercayaan akan masa depan kemanusiaan sendiri. Pada satu saat nanti umat manusia akan kembali berada bersama dengan Tuhan di surga. Masa depan seperti ini bisa pula terjadi karena salah satu dari kemanusiaan, yakni Maria, sudah ada di sana dan kini ia melantarkan doa-doa permohonan dari yang biasa hingga yang amat khusus kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita acap kali menyadari bahwa Tuhan lebih mendengarkan kita – berkat Maria – daripada kita mendengarkanNya. Maria tahu jalan-jalan menyampaikan doa kita kepada Yang Maha Kuasa.

Diceritakan dalam Kitab Kejadian, manusia dan istrinya diusir dari Firdaus karena melanggar larangan memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Ini dosa. Dosa membuat kemanusiaan merosot. Sebelumnya mereka akrab dengan dunia ilahi, dapat bercakap-cakap dengan Tuhan. Manusia merasa aman di hadapanNya. Tapi begitu mereka sadar telah melanggar larangannya mereka takut bertemu denganNya dan menyembunyikan diri. Rasa saling percaya rusak dan tidak lagi mereka dapat berdiam di Firdaus. Tuhan mengusir mereka dan bahkan menempatkan malaikat penjaga berpedang api agar mereka tak bisa mendekat ke pohon kehidupan. Manusia kini harus berjerih payah mencari makan agar hidup terus. Istrinya harus menderita tiap kali mau menjadi ibu. Dan penggoda mereka, ular, dikutuk jalan melata. Tapi juga dikatakan seorang keturunan perempuan yang diperdayakannya itu nanti akan meremukkan kepalanya. Ini semuanya ada dalam Kitab Kejadian 3, khususnya Kej 3:15.

Mari kita bayangkan kelanjutan yang tidak diceritakan dalam Alkitab, tapi bisa kita rasa-rasakan. Setelah mengusir manusia dari Firdaus, Tuhan pun mengatupkan pelupuk mata menghela nafas. Dan semua penghuni surga pun tertunduk diam. Seluruh Firdaus seperti berkabung. Suasana ini membuat Tuhan merasa kesepian. Suatu hari Ia mengambil keputusan untuk turun ke dunia mencari manusia yang sudah diusirNya. Maka Ia mengubah diri menjadi suara batin yang ada dalam diri manusia. Dengan demikian, manusia diam-diam dituntunNya melangkah, mungkin dengan jatuh bangun lewat lorong-lorong kembali ke Firdaus, lewat jalan lain yang tidak dijaga malaikat berpedang api. Begitulah Ia berharap satu ketika nanti manusia akan bisa berada kembali di surga mengusir suasana murung untuk selama-lamanya.

Hari ini dirayakan kembalinya satu dari keturunan yang telah terusir dari Firdaus tadi. Bukan itu saja. Dirayakan pulihnya suasana gembira di surga. Dirayakan kebesaran Tuhan yang dapat membawa kembali kemanusiaan ke sana. Dirayakan pula kemampuan manusia untuk bekerja sama dengan Tuhan. Dirayakan orang yang hidup tulus membiarkan diri dituntun suara batin. Dan lebih dari itu. Kandungan suara batinnya itu menjadi darah daging juga – menjadi manusia. Manusia pertama yang bangkit dari kematian dan naik ke surga. Yesus dan dia yang kini mengisi surga dengan kegembiraan. Dia itulah yang menuntun manusia kembali ke sana. Sebagai Guru. Sebagai Gembala yang baik. Sebagai Penyelamat. Tak mengherankan yang pernah membawanya masuk ke dunia ini dengan sendirinya ikut terbawa kembali ke surga. Dia itu Maria, ibu Yesus.

KIDUNG MAGNIFIKAT

Bacaan Injil pada perayaan hari ini (Luk 1:39-56) memuat dua bagian, yakni kisah Maria mengunjungi Elisabet (ay. 39-45) dan Kidung Pujian “Magnifikat” (ay. 46-55) yang berakhir dengan ay. 56 sebagai penutup kisah. Bagian pertama mengisahkan dua orang perempuan yang mendapati diri beruntung. Elisabet yang termasuk kaum yang kena aib karena tidak mengandung sampai usia senja kini akan melahirkan Yohanes Pembaptis. Dan dia yang masih ada dalam rahim itu melonjak kegirangan mendengar salam yang diucapkan Maria yang datang berkunjung. Maria sendiri harus melewati hari-hari tak enak memikirkan bagaimana menjelaskan keadaan dirinya kepada Yusuf, tunangannya. Ia bertanya kepada malaikat yang datang kepadanya, bagaimana mungkin semuanya terjadi. Jawab malaikat menunjuk pada peran Roh Kudus. Begitulah kisah yang disampaikan kepada kita oleh Lukas. Dan kelanjutannya kita ketahui. Maria membiarkan Roh Kudus bekerja dalam dirinya. Itu dia Tuhan yang mengubah diri menjadi suara hati manusia. Dan suara hatinya itu jugalah yang membuatnya berkata “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu!”

Roh yang sama itu juga yang membuat Maria mengkidungkan pujian yang dibacakan hari ini. Kidung itu mulai pada ay. 46 dengan pujian bagi Tuhan yang turun untuk menyelamatkan. Ia membuat hidup ini berarti. Ia membuat penderitaan bermakna. Kemudian dalam ay. 48 terungkap pengakuan bahwa Tuhan menyayangi orang-orang yang kecil sehingga mereka menjadi besar di mata orang. Tak perlu kita tafsirkan ini sebagai teologi pembalikan nasib orang miskin jadi kaya dan orang kaya jadi melarat. Ayat itu mewartakan kebesaran Tuhan yang tidak takut berdekatan dengan orang kecil, bukan karena tindakan ini romantik, ideal, melainkan karena orang kecil itu dapat memberinya naungan dan mengurangi kesepiannya! Orang sederhana biasanya ingat Tuhan dan itu cukup membuatNya menemukan kembali secercah kegembiraan yang telah hilang dari surga dulu. Ini teologi sehari-hari.

Ayat-ayat selanjutnya, yakni 49-55, berupa pembacaan kembali sejarah terjadinya umat Israel. Ditekankan tindakan-tindakan hebat Tuhan yang membela orang-orang yang dikasihiNya di hadapan pihak-pihak yang mau menindas mereka. Puji-pujian yang terungkap dalam Magnifikat ini senada dengan ungkapan kegembiraan dan kepercayaan akan perlindungan ilahi seperti terdapat dalam Kidung Hana dalam 1Sam 2:1-10.

Sering ada anggapan bahwa penderitaan, kemelaratan, ketidakberuntungan, aib, semuanya ini dikenakan sebagai hukuman bagi suatu kesalahan. Juga dianggap bahwa hukuman bisa juga diturunkan kepada keturunan orang yang bersalah. Dosa menurun, hukuman berkelanjutan. Dalam Kidung Magnifikat pendapat seperti ini tidak diikuti. Malah ditegaskan bahwa Tuhan membela orang yang percaya kepadanya yang meminta pertolongan dariNya. Bagaimana dengan orang yang hidupnya beruntung, menikmati kelebihan, tidak kurang suatu apa? Apakah mereka itu akan dikenai malapetaka? Kiranya bukan itulah yang dimaksud. Orang-orang yang beruntung dihimbau agar mengambil sikap seperti Tuhan sendiri, yakni memperhatikan mereka yang kurang beruntung. Sama sekali bertolak belakang bila orang membiarkan kekayaan, kedudukan, kepintaran membuat sesama yang kurang beruntung menjadi terpojok atau kurang mendapat kesempatan untuk maju. Inilah yang kiranya hendak disampaikan dalam ay. 52-53 yang mengatakan bahwa kaum congkak hati akan diceraiberaikan, orang berkedudukan akan direndahkan, orang kaya akan disuruh pergi dengan tangan hampa. Kidung Magnifikat mengajak orang-orang yang merasa beruntung diberkati oleh Tuhan dengan kelebihan bukan untuk menikmatinya, melainkan untuk memungkinkan sesama ikut beruntung. Di sini tidak ditawarkan sebuah teologi penjungkirbalikan nasib, melainkan pelurusan hakikat kehidupan sendiri.

Kepercayaan akan kebesaran Tuhan tidak bisa diterapkan begitu saja untuk memerangi ketimpangan sosial yang mengakibatkan adanya ketidakadilan yang melembaga. Namun demikian, kepercayaan ini dapat membuat manusia makin peka dan mencari jalan memperbaiki kemanusiaan sendiri. Keterbukaan kepada dimensi ilahi akan membuat orang makin lurus.

MEMUNGKINKAN FIRMAN ALLAH BERTUMBUH

Dalam Injil bagi Misa Vigilia (Luk 11:27-28) disebutkan ada seorang perempuan yang menyebut bahagia ibu yang melahirkan Yesus (Luk 11:27). Yesus menambahkan, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” Kata Indonesia “memelihara” ini dengan tepat mengutarakan kembali ungkapan aslinya yang memuat pengertian menjaga, menelateni, membesarkan. Agak disentuh teologi sabda seperti diutarakan dalam pembukaan Injil Yohanes. Yang menarik ialah adanya penekanan pada kegiatan pihak manusia. Dikatakan manusia memelihara sabda Allah. Berarti sabda itu juga bisa berkembang dalam diri manusia dan bahkan menjadi bagian kehidupannya. Maria ialah salah satu yang menjalankannya. Seperti diutarakan dalam Luk 1:38 “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”, sabda Allah yang dibawakan malaikat kepadanya menjadi kehidupan karena diterimanya dan dikandungnya. Dan Maria melahirkannya tadi dalam ujud manusia. Kata-kata Yesus yang diteruskan dalam Luk 11:28 tadi memperjelas apa artinya berbahagia karena bisa melahirkan dan membesarkannya. Maria berbahagia karena ia mendengarkan firman Allah serta memeliharanya.

Salam hangat,

A. Gianto

Renungan Romo A Gianto SJ yang lalu klik disini


Agustus 6, 2009 at 10:30 pm Tinggalkan Komentar

MAKANAN YANG MENGHIDUPKAN

Injil Minggu Biasa XVIII B 2 Agustus 2009 (Yoh 6:24-35)

MAKANAN YANG MENGHIDUPKAN

Pada awal Injil Minggu Biasa XVIII tahun B (Yoh 6:24-35) disebutkan bagaimana orang banyak yang telah mendapatkan makan dari Yesus (lihat Injil Minggu sebelum ini, Yoh 6:1-15) mencarinya di Kapernaum. Mereke menemukan dia di pantai seberang. Seperti dikisahkan pada akhir Injil Minggu lalu, mereka adalah orang-orang yang ingin menjadikannya raja, tetapi Yesus menyingkir dari mereka.

Terjadilah percakapan antara mereka dengan Yesus. Di sini menjadi jelas apa yang sebetulnya diinginkan orang-orang itu, sekaligus juga dijernihkan apa yang sebaiknya mereka jangkau. Dan mengapa demikian. Ketika orang banyak mendapati Yesus di seberang danau (disebut “laut”), mereka bertanya kepadanya kapan ia tiba di sini. Orang-orang itu begitu tertarik dan bahkan ingin mengangkatnya sebagai pemimpin. Maka mereka tak habis mengerti mengapa justru Yesus pergi menghindar. Oleh karena itu mereka mencarinya. Kini mereka menemukannya di tempat lain. Yesus menjawab keheranan mereka dengan mengatakan bahwa yang mereka cari ialah orang yang memberi makan mereka, bukan dia yang membawakan “tanda-tanda”.

Dalam Injil Yohanes, tindakan-tindakan Yesus yang membuat orang terkesan, disampakan sebagai “tanda”. Begitulah pemberian makan bagi orang banyak yang dikisahkan dalam Yoh 6:1-5 kini dibicarakan sebagai tanda, bukan sebagai mukjizat atau sebagai kegiatan amal belaka.

Tanda menghadirkan kenyataan atau pesan yang bukan tanda itu sendiri. Dalam hal Yesus memberi makan orang banyak,  yang hendak disampaikan bukanlah terutama kebesaran hati atau kedermawanan atau kekuasaannya, melainkan pengalaman nenek moyang mereka diberi makan oleh Allah Tuhan mereka selama mereka berjalan di padang gurun menuju ke Tanah Terjanji. Dalam ungkapan iman umat Perjanjian Lama, pemberian makanan dalam ujud manna dari langit ini ditampilkan sebagai cara Tuhan tetap menyertai umat yang telah dibawaNya keluar dari tempat perbudakan di Mesir dan dipimpinnya berjalan ke tempat yang disediakanNya bagi mereka. Pemberian makan orang banyak oleh Yesus hendak menampilkan kembali pengalaman umat Perjanjian Lama ini. Namun mereka belum dapat melihat dia sebagai utusan dari Allah yang hendak menyertai mereka, juga kali ini.

Dalam peristiwa memberi makan orang banyak,  Yesus juga ditampilkan bukan saja pembawa manna surgawi, melainkan kenyataan Tuhan menyertai mereka. Dialah makanan yang menopang orang dalam perjalanan menuju tempat yang dijanjikan. Inilah yang dimaksud dengan “tanda” dalam petikan Injil kali ini.

Orang banyak yang menemui Yesus kali itu diajak menimba kekayaan pengalaman iman leluhur mereka dan mempercayai tindakan ilahi yang kini sedang mereka alami. Kini Bapa yang ada di surga memberi kehidupan kepada umat dalam ujud kedatangan Yesus di tengah-tengah mereka. Namun mereka belum menyadarinya. Mereka baru melihat Yesus sebagai tokoh masyarakat, sebagai yang membela kepentingan mereka, sebagai orang yang diharapkan bisa berbicara demi kebutuhan mereka. Semua ini bagus dan terpuji. Namun bukan ke arah itulah Yesus tampil di tengah-tengah umat. Ia tampil sebagai kenyataan hadirnya Yang Ilahi di tengah umat untuk membawa mereka ke akhir perjalanan. Inilah kehidupan yang dibawakannya kepada orang banyak.

Memang umat Perjanjian Lama tahu bahwa dahulu kala Tuhan menghidupi umat dengan makanan dari langit, dengan manna. Tapi tidak mudah bagi mereka melihat serta menyadari bahwa peristiwa manna itu bukan semata-mata tindakan ilahi dahulu kala yang diceritakan kembali turun temurun dan dikeramatkan, melainkan masih berlangsung sekarang ini juga. Masalah iman bagi umat ketika itu ialah ketidakmampuan menyadari bahwa iman itu hidup, bukan sekadar ingatan yang dikeramatkan.

Bagi orang zaman sekarang, juga bagi orang yang tidak turun temurun menghayati kisah pemberian manna, petikan Injil kali ini tetap bisa bermanfaat. Diajarkan agar orang membiarkan iman menjadi bagian kehidupan, bahkan menjadi cara untuk menjalankan hal-hal yang dikehendaki Yang Maha Kuasa.

Salam,

A. Gianto

Renungan minggu yang lalu dapat dilihat di Kolom Romo Gianto

Juli 31, 2009 at 12:50 pm Tinggalkan Komentar

Ignatius: Pendosa dan Pendoa

Posted: 14 Jul 2008 03:47 PM CDT

By : A Widyaputranto SJ

Mungkin bagi sebagian orang jaman ini, kisah santo-santa hampir sama seperti kisah-kisah dongeng pengantar tidur anak-anak. Kisah-kisah ini mungkin dianggap”too good to be true”, ideal, jauh dari realitas nyata, bahkan omong kosong. Ironisnya, di sisi lain, kita melihat pula bahwa dewasa ini buku-buku self-help ataupun cerita-cerita inspiratif, baik itu dalam konteks psikologi, manajemen, bisnis, sebagian besar merupakan sebuah “story-telling” dari kisah sukses jatuh bangun seseorang yang berhasil, tokoh besar dalam bidangnya, ataupun juga perusahaan-perusahaan terkemuka. Kita masih ingat beberapa tahun lalu orang begitu banyak menggemari “chicken soup for the soul” dengan berbagai macam edisinya. Di tanah air sendiri sampai detik ini semakin banyak buku-buku yang “bercerita” tentang pengalaman-pengalaman dalam berbagai bidang hidup. Di bidang motivasional, bisnis dan manajemen, kita bisa melihat pula begitu banyak buku misalnya tentang “Starbucks” begitu laris manis dengan penulis yang berbeda-beda pula.

Dalam menghidupi penghayatan iman katolik kita, sebenarnya kita perlu bersyukur bahwa kita bisa banyak belajar dari kisah santo-santa dalam Gereja Katolik. Kita bisa belajar bagaimana para santo dan santa berjuang membangun relasi personalnya dengan Tuhan, bagaimana mereka berjuang menghadapi kelemahan pribadi, kedosaan dan ambisi-ambisi pribadi yang tidak selalu luhur. Dinamika hidup mereka dalam menemukan Tuhan dan setia pada iman bisa menjadi inspirasi yang baik bagi setiap orang katolik.

Kisah hidup Santo Ignatius Loyola bagi saya pribadi merupakan salah satu kisah seorang Santo yang sangat “manusiawi”. Kalau kita membaca dari dekat apa yang menjadi dinamika dan perjuangan hidup Ignatius Loyola, dalam banyak sisi kita bisa berkaca tentang apa yang bergejolak dalam diri kita. Tegangan antara aktualisasi diri, ambisi pribadi, nama baik, kemasyuran dengan pencarian diri, spiritualitas, serta makna dan tujuan hidup merupakan hal yang sangat nyata dalam kisah Santo yang satu ini. Dari kisah hidupnya, kita bisa merenungkan perspektif hidup kita sebagai orang beriman kristiani, sebagaimana Ignatius sendiri belajar menemukan Tuhan dan berjuang untuk memberikan dan membaktikan diri kepada Tuhan sendiri.

Sebagian orang lebih terkesan dengan Ignatius karena dia adalah seorang bangsawan spanyol, atau lebih sering dikenal sebagai sosok “prajurit” ataupun ksatria. Kisah hidupnya yang menjadi awal dimana Tuhan menyapa dirinya, yaitu pertempuran di Pamplona, merupakan kisah Ignatius yang heroik sekaligus tragis, yang akhirnya menjungkirbalikkan logika dan perspektif hidupnya. Lebih jauh, sebenarnya kata “pendosa dan pendoa” itu sangatlah cocok diberikan kepada Ignatius ini. Dari kisahnya, kita bisa melihat bahwa Ignatius sendiri dengan rendah hati mengakui bahwa dirinya adalah pendosa, bukan sosok yang sempurna, penuh dengan ambisi, ketakutan dan egoisme, sosok yang idealis. Namun dalam perjalanan hidupnya lebih jauh kita bisa melihat sosok Ignatius yang adalah seorang mistikus, pendoa, pemimpin rohani dan juga teman yang baik serta rendah hati. Transformasi diri Ignatius dari sosok pendosa menjadi seorang pendoa ulung telah meninggalkan sebuah warisan yang berharga untuk Gereja Katolik. Lewat Ignatius-lah sebuah spiritualitas untuk menemukan Tuhan di dalam segala sesuatu, dalam realitas kongkrit hidup kita sehari-hari menjadi sebuah bentuk spiritualitas yang sangat pokok dalam pertumbuhan Gereja dan umat beriman. Warisan Ignatius lainnya adalah “Pembedaan Roh” yang tentunya menjadi alat bantu yang jitu dalam membangun dan menghayati iman katolik dan hidup rohani kita.

Tanggal 31 Juli mendatang adalah Pesta Santo Ignatius Loyola. Saya mengajak anda selama 9 hari dari tanggal 22 Juli hingga 30 Juli merenungkan kisah hidup Santo Ignatius Loyola di blog ini sekaligus berdoa Novena Santo Ignatius Loyola. Pada 9 hari tersebut akan disajikan cuplikan kisah hidup Santo Ignatius dan juga renungan singkat yang bisa anda pakai khususnya untuk membantu pelaksanaan novena anda secara pribadi. Teks novena sudah dibuat, dan akan dimuat di blog ini. Bila anda punya intensi-intensi pribadi dan ingin anda sampaikan lewat perantaraan doa Bapa Ignatius, maka saya kira novena ini bisa sangat membantu anda.

Silakan sampaikan kepada rekan ataupun komunitas anda tentang novena Santo Ignatius Loyola di blog ini www.ignatiusloyola.net

Juli 15, 2008 at 9:07 am 1 komentar


Tulisan Terbaru :

Pengunjung :

  • 29,126

Langganan :

Ad Maiorem Dei Gloriam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.