Posts filed under 'Uncategorized'
Koran Kompas Tanpa Kertas
TAUFIK H. MIHARDJA, wakil pemimpin redaksi Kompas, pada blogsitenya mengatakan Bersamaan dengan mudik lebaran tahun ini, Kompas.com sengaja meluncurkan satu produknya yang istimewa, yakni kompas mobile ( alamatnya, http://m.kompas.com ) yang bisa diakses HP biasa (asal memiliki saluran GPRS) dan Blackberry. Ini adalah hadiah bagi pada audience yang akan meninggalkan kota tempat mereka bekerja atau tinggal ke kampung halaman masing-masing, di mana tidak terdapat tukang koran, terima kasih mas Taufik atas “Hadiah Lebaran” nya … mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca Kompas
Beberapa waktu yang lalu Kompas meluncurkan apa yang dinamakan edisi elektronik atau epaper dengan alamat http://epaper.kompas.com, berisi koran Kompas yang terbit dalam bentuk seperti yang kita kenal, pada hari yang sama
Bagi mbah, yang sudah di atas seket, terbitnya Kompas Mobile dan epaper.kompas.com adalah sesuatu yang menakjubkan, bagaimana tidak … wong sekarang tiap kali baca koran Kompas mbah tidak pegang kertas lagi … sesuatu yang tidak masuk akal orang jaman dulu, bahwa baca koran tapi tidak pegang kertas, rasanya tidak ada seorang peramal pun yang waktu itu berani meramalkannya, untung nggak percaya ramal-meramal
Sewaktu membaca koran Kompas melalui epaper.kompas.com ada sesuatu yang kayanya mesti kita rubah, salah satu misalnya kalau kita baca koran kertas kita bisa lipat halamannya dan kita baca sambil nyender setengah tiduran di kursi, hal ini tentunya tidak bisa kita lakukan di edisi elektronik, karena korannya ada di layar monitor kita … ya perlu waktu ya untuk beradaptasi, sebab sudah puluhan tahun kalau baca koran ya pegang kertas
Selamat kepada Koran Kompas atas peluncuran Edisi Elektronik dan Kompas Mobile nya, semoga bermanfaat bagi para pembaca dan masyarakat Indonesia pada umumnya, serta teruslah berinovasi karena dengan demikian akan dapat terus berada di terdepan
Add comment September 30, 2008
Harga Sebuah Baju
—– Original Message —–
From: Liana Salim
Sent: Wednesday, August 06, 2008 1:06 AM
Subject: FW: Harga Sebuah Baju
Harga Sebuah Baju
> Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian
sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan
malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University .
> Sesampainya disana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa
mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard
dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.
> “Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
> “Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
> “Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.
> Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan
tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak.
> Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan
kepada sang pemimpinnya.
> “Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,”
katanya pada sang Pimpinan Harvard.
> Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia
pasti tidak punya waktu untuk mereka.
> Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang
diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard,
dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.
> Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun
pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi
setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan
peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya, dengan
mata yang menjeritkan harap.
> Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak
terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk
setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat
ini sudah akan seperti kuburan.”
> “Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat,
> “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah
gedung untuk Harvard.”
> Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan
pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian
tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar
hanya untuk bangunan fisik Harvard.”
> Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin
dia bisa terbebas dari mereka sekarang.
> Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu
biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?”
> Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr.
dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke
Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang
menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi
diperdulikan oleh Harvard.
> Universitas tersebut adalah Stanford University , salah satu universitas
favorit kelas atas di AS.
> Pesan Moral :
> Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal,
baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi,
janganlah kita selalu lalai, karena baju-baju, acap menipu.
jangan menilai buku dari sampulnya.
renungkan,
salam.
Ferdinandus tan.
Dikutip dari : ApiK
Add comment Agustus 8, 2008


