Posts filed under ‘Keuskupan Agung Semarang’

Mgr Suharyo Resmi Uskup Koajutor KAJ

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah tiga bulan, Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo Pr akhirnya resmi menjabat sebagai Uskup Koajutor pada Keuskupan Agung Jakarta. Sebagai Uskup Koajutor, Suharyo akan mewakili Uskup Agung Jakarta Mgr Julius Kardinal Darmaatmaja jika ia berhalangan.

Misa Kudus Penerimaan Mgr Suharyo dilakukan di Gereja Katedral Jakarta, Rabu (28/10) pukul 10.00 tadi. Misa dipimpin langsung oleh Mgr Kardinal Julius Darmaatmaja.

Koor dari Paroki Kristus Raja Kampung Duri mendapat kehormatan mengiringi Misa Agung yang dihadiri Duta Besar Vatikan Mgr Leopoldo Girelli, Uskup Bandung Mgr Pujasumarto Pr, dan Uskup Bogor Mgr Cosmas Angkur OFM itu.

Dalam Gereja Katolik ada dua macam uskup pendamping, yakni Uskup Auxilier dan Uskup Koajutor. Uskup Auxilier tidak secara otomatis akan menggantikan uskup lama jika yang bersangkutan tidak bisa menjalankan tugasnya. Sedangkan Uskup Koajutor, seperti yang disandang Mgr Suharyo, secara otomatis akan menggantikan uskup jika yang bersangkutan tidak bisa menjalankan tugasnya.

Untuk sementara, Mgr Suharyo dan Mgr Julius akan tinggal di tempat terpisah, tetapi untuk kegiatan pelayanan ataupun birokrasi keuskupan akan selalu dikomunikasikan.

“Saat ini Uskup Agung Jakarta seakan berkaki empat,” kata Kardinal menganalogikan kondisi di KAJ saat ini. Meski begitu, Kardinal berharap agar umat dapat memperlakukan Mgr Suharyo seperti umat memperlakukan dirinya.

Mgr I Suharyo dalam sambutannya di pengujung perayaan mengungkapkan, dirinya sebenarnya sudah diminta untuk datang ke Jakarta seusai pengangkatannya oleh Paus pada 25 Juli lalu. Akan tetapi, dia meminta waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas pokoknya di Keuskupan Agung Semarang.

Seperti diberitakan, pimpinan tertinggi Gereja Katolik Dunia Paus Benediktus XVI telah menunjuk Mgr Ignatius Suharyo, Uskup Agung Semarang, sebagai Uskup Koajutor Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Sabtu (25/7) pukul 17.00 WIB atau pukul 12.00 waktu Roma.

Sumber : Kompas.com

Terjadilah kekosongan jabatan Uskup KAS ?

Kekosongan jabatan Uskup di Keuskupan Agung Semarang hanya terjadi beberapa jam saja, yaitu sekitar 2 jam, sejak sekitar 10:50 saat Duta Besar Vatican Mgr Leopoldo Girelli menunjukan Bulla Penunjukan kepada Bapak Kardinal Julius Darmaatmadja, Konsultore Jakarta dan umat KAJ hingga pukul 13:30 dimana Romo Pius Riana Prapdi Pr, Vikjen Keuskupan Agung Semarang, terpilih sebagai Administrator Diosesan pada pertemuan Konsultor KAS

Siapa Romo Pius Riana Prapdi Pr ?

Sebelum menjabat sebagai Vikjen KAS sejak 10 Juli 2008, beliau bertugas di Paroki Fransiskus Xaverius Kidul Loji Yogyakarta dan menjadi Direktur utama KARINA KAS. Sempat mengikuti study di Italia. Beliau juga pernah bertugas di Paroki Sragen tahun 1997 s/d 1998. Banyak catatan positif dan kenangan manis dari umat Sragen (baik dari anak-anak, kaum muda hingga orang tua) tentang Romo Riana saat ia mendampingi Romo Petrus Soeprijanto, Pr (sebagai Pastor Kepala) bertugas menjadi gembala di Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen.

Sumber : Paroki Sragen

(Foto : Komisi KomSos KAJ)

Oktober 29, 2009 at 6:58 pm Tinggalkan komentar

SURAT GEMBALA MGR. I SUHARYO

SURAT GEMBALA MGR.  I  SUHARYO

DALAM RANGKA KEPINDAHAN KE

KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA

24/25 OKTOBER 2009

Para Ibu/Bapak,

Para Suster/Bruder/Rama

Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

1. Sekitar duabelas tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Agustus 1997, saya menulis surat bagi Umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang, dalam rangkamenyiapkan diri, menyongsong Tahun Yubileum Agung tahun 2000. Dalam rangka TahunYubileum itu, almarhum Paus Yohanes Paulus II mengajak kita untuk bergembira dan bersyukur, merasakan kebahagiaan hidup sebagai orang beriman yang dianugerahi keselamatan. Dengan merayakan Tahun Yubileum Agung itu kita juga mengungkapkan

harapan kita akan datangnya tata kehidupan baru yang semakin bersaudara, adil, damai dan sejahtera, “langit baru bumi baru”. Harapan inilah yang selama ini bersama-sama kita perjuangkan perwujudannya dalam berbagai kesempatan dan dengan berbagai cara.

2. Dalam rangka itu pulalah Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dirumuskan, berbagai pedoman diberlakukan serta berbagai wacana – misalnya Gereja sebagai peristiwa, Gereja yang signifikan secara internal relevan secara eksternal, penegasan bersama, pelayanan yang murah hati dan berbagai wacana lain – dilontarkan. Semuanya diharapkan mengalirkan dinamika kehidupan umat beriman yang mengarah ke terbangunnya komunitas alternatif atau komunitas kontras :

yaitu komunitas umat beriman yang hidup berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah, bukan sekedar mengikuti arus jaman yang tidak selalu membawa kita semakin dekat dengan Allah, sesama dan alam semesta.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

3. Agar harapan itu pelan-pelan dapat menjadi kenyataan, kita diundang untuk selalu membarui diri sebagai murid-murid Yesus. Kisah pengemis buta Bartimeus yang diwartakan pada hari ini dapat membantu kita dalam usaha mengembangkan hidup kita sebagai murid-murid Kristus. Perjumpaan Bartimeus dengan Yesus membuat dirinya yang tadinya buta (Mrk 10:46), menjadi melihat (ay 52). Ia yang tadinya hanya “duduk” (ay 46), lalu “berdiri” (ay 50) pergi mendapatkan Yesus. Ia yang semula hanya “di pinggir jalan” (ay 46), lalu “mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” (ay 52). Ia menanggalkan jubahnya (ay ay 49), artinya “menanggalkan manusia lama … dan mengenakan manusia baru” (Ef 4:22; bdk Kol 3:9). Sikap dan kata-kata Yesus juga mengubah sikap para murid. Semula mereka menegor pengemis buta itu (Mrk 10:48). Sikapnya tidak bersahabat, kata-katanya tajam. Setelah Yesus menyuruh mereka untuk memanggil si pengemis itu, sikap mereka berubah menjadi bersahabat dan kata-kata mereka meneguhkan. Mereka berkata, “Kuatkan hatimu… Ia memanggil engkau” (ay 49). Tampak jelas bahwa perjumpaan-perjumpaan yang diceritakan dalam kisah ini merupakan saat-saat yang membaharui dan meneguhkan kehidupan.

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

4. Selama dua belas tahun melayani umat di Keuskupan Agung Semarang ini, saya banyak mengalami perjumpaan-perjumpaan seperti itu. Saya merasa diteguhkan dan berkembang dalam imamat serta dalam pelayanan dalam perjumpaan-perjumpaan seperti itu. Maka pada akhir masa pelayanan saya sebagai Uskup di Keuskupan Agung Semarang ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih. Terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak – pendek kata kaum awam -

atas keterlibatan Ibu/Bapak/Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak dalam kehidupan Gereja. Keterlibatan Ibu/Bapak/Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak sungguh membuat Gereja kita hidup. Saya berdoa, semoga keluarga-keluarga kita dilimpahi berkat, perlindungan dan damai sejahtera. Terima kasih kepada para Suster dan Bruder atas pilihan hidup, kehadiran dan pelayanan yang para Suster dan Bruder berikan. Kehadiran dan pelayanan para Suster dan Bruder amat menentukan wajah Gereja di Keuskupan Agung Semarang ini. Saya berdoa semoga komunitas-komunitas para Suster dan Bruder menjadi komunitas yang semakin memancarkan kasih Tuhan sendiri. Terima kasih kepada para imam, baik yang berkarya maupun yang tinggal di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Kerja keras dan kerelaan untuk bekerjasama di antara para imam menjadikan pelayanan kita semakin murah hati dan cerdas. Saya berdoa agar para imam mengalami kegembiraan batin yang terpancar dalam hidup yang damai serta pelayanan yang semakin total dan tulus.

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

5. Pada tanggal 25 Juli 2009 yang lalu saya ditunjuk oleh Bapa Suci Benediktus XVI untuk menjadi Uskup Agung Koajutor di Keuskupan Agung Jakarta. Saya membutuhkan waktu cukup lama untuk mencoba mengerti dan memaknai kehendak Tuhan dalam penunjukan ini. Saya menerima perutusan ini dengan lapang hati ketika saya sampai pada keyakinan bahwa yang mengutus saya adalah Umat Keuskupan Agung Semarang. Pimpinan Gereja memanggil saya, Keuskupan Agung Semarang mengutus saya dan saya menerimanya karena saya yakin bahwa hidup adalah anugerah yang selalu harus dibagikan. Terima kasih atas sekian banyak doa yang dipanjatkan untuk saya dalam rangka penerimaan tugas baru ini. Kalau pernah ada yang baik yang saya lakukan dalam pelayanan saya selama ini, semuanya itu adalah buah dari doa-doa seluruh umat. Bekal doa ini pulalah yang akan saya bawa dalam menjalankan tugas pelayanan saya selanjutnya. Saya akan berangkat hari Selasa 27 Oktober 2009 dan akan diterima di Keuskupan Agung Jakarta pada hari Rabu 28 Oktober 2009. Marilah kita saling mendoakan agar kita dapat menjalankan perutusan kita masing-masing yang berbeda-beda, demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama.

1.Doa rosari bersama umat

Hari pertama bulan sepuluh,

Hati gembira penuh semangat

Bunda Maria tempat berteduh

2. Di hutan hidup kawanan lebah

Di sawah tumbuh rumpun padi

Matahari terus berubah

Kasih Tuhan kekal abadi

Berkah Dalem,

Semarang, 13 Oktober 2009

+ I. Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Semarang

Oktober 20, 2009 at 11:01 am Tinggalkan komentar

Yang Terpilih untuk Dipecah & Dibagi

Menjadi Uskup bukanlah suatu cita-cita sebab tidak ada sekolah khusus untuk menjadi Uskup. Tetapi bahwa seorang imam dipilih menjadi Uskup, pastilah karena memiliki suatu keistimewaan, baik dalam hal iman, moral dan dalam kebijaksanaan hidup. Singkatnya, seorang yang dipilih menadi Uskup pastilah memiliki kesempurnaan dalam tritugas pelayanan sebagai imam, nabi dan raja. Itulah yang terjadi dalam diri Mgr. I. Suharyo, Uskup Agung Semarang.

Gereja Keuskupan Agung Semarang pantas bersyukur atas segala berkat dari Tuhan atas penggembalaan beliau selama 12 tahun menjadi Uskup di Keuskupan Agung Semarang. Dalam masa penggembalaan beliau, lahirlah beberapa kata kunci yang menuntut Gereja untuk selalu merefleksikan, mengolah dan mengambl suatu tindakan nyata dalam peziarahannya di Keuskupan Agung ini. Membangun komunitas, duduk bersama, pelayanan yang murah hati, adalah sebagian dari sekian kata-kata kunci yang diwariskan oleh Bapa Uskup Mgr. I. Suharyo dalam pelayanannya sebagai Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang.

Bahwa sekarang Bapa Uskup Mgr. I. Suharyo dipindah menjadi menjadi Uskup Koajutor di Keuskupan Agung Jakarta, memunculkan berbagai macam ungkapan, kesan, bahkan pesan-pesan tersendiri. Yang jelas, hampir seluruh umat Keuskupan Agung Semarang, para imam, biarawan dan biarawati merasa kehilangan. Seorang imam mengatakan: “wis, sesuk Semarang diganti Uskup sing elek wae, ben ora usah dipindah-pindah (Dah.. besok Semarang diberi Uskup yang jelek saja, biar tidak dipindah-pindah: hanya masalahnya apakah Roh Kudus akan dapat memilih Uskup yang jelek?) Ungkapan imam itu menunjukkan adanya kekecewaan imam tersebut karena kepindahan Mgr.I. Suharyo. Memang, pindahnya Uskup Agung Semarang sudah merupakan peristiwa yang kedua kalinya setelah sebelumnya yaitu Bapa Kardinal Yulius Darmaatmadja SJ, Uskup Agung Semarang juga dipindah ke Jakarta.

Great moment to share….
Jika kita googling dengan kata kunci “Ignatius Suharyo”, dalam kurun 0.23 detik terkumpul 5.820 artikel. Jika dicari “Mgr. Ignatius Suharyo”, terkumpul hasil 9.440 artikel berbahasa Indonesia dan 949 artikel berbahasa Inggris dalam waktu 0.06 detik. Saya ketik kata kunci “I. Suharyo Pr”, maka tertayang 24.500 hasil dalam waktu 0.27 detik. Apa artinya itu, jika bukan kenyataan bahwa Monsinyur Suharyo “kondhang”? (J. Dwi Harsanto, Pr)

Beliau tidak suka jajan. Dalam hal ini, beliau sangat cocok untuk menggembalakan umat di Jakarta karena kesaksian hidup sederhana menjadi sangat bermakna di tengah maraknya gaya hidup metropolitan yang sarat dengan aktivitas belanja dan kuliner. (CB Mulyatno, Pr).

Aku mikir tentang hal-hal besar demi panggilan dan perutusanku, tapi Rama yang lembut itu berpikir begitu sederhananya. Pelajaran rohani yang kudapatkan dari rama yang lembut ini: hidup tidak boleh berhenti pada bungkus serta pentingnya keheningan dan suka cita dalam hidup dan panggilan. (St. Eka Riyadi, Pr.).
Ungkapan sesanti yang menggunakan unsur tiga (entah tiga kata atau tiga ungkapan peneguh), kerapkali kita dengarkan dan juga kita rasakan. Tiga kata Uskup yang bisa menjadi daya pamungkas adalah “Baik, terima kasih, teruskan”. (FX Sukendar Wignyasumarta, Pr)

Getaran hati Mgr. I. Suharyo telah dinanti di Jakarta. Menggetarkan Jakarta yang mendamba dengan sabda: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yoh 2:17). Cinta untuk rumah Keuskupan Agung Jakarta menghanguskan hati. Jakarta digetarkan dengan hati: cinta untuk rumah-Mu menggetarkan aku. (P. Riana Prabdi, Pr)

Kanisius

Oktober 13, 2009 at 3:00 pm Tinggalkan komentar

Misa Perpisahan Umat KAS Dengan Mgr Suharyo

Berita pengangkatan Mgr Ignatius Suharyo sebagai Uskup Cuajutor Keuskupan Agung Jakarta pertama kali kami baca di Facebook, dimana Mgr Pujasumarta menyampaikan berita ini (klik disini)

Sejak itu banyak tanggapan dari umat atas pengangkatan ini, bila umat Keuskupan Agung Jakarta merasa gembira, lain halnya umat di Keuskupan Agung Semarang disamping ada yang merasa bangga Uskupnya dipindahkan ke Jakarta, dimana sebagai ibukota tantangan bagi Uskup tentunya berbeda dibandingkan sebagai Uskup di daerah, ada juga umat yang merasa kehilangan dan ini tentunya kita maklumi karena belum lama, yaitu pada bulan Juli 2008 Vikjen Keuskupan Agung Semarang romo Yohanes Pujasumarta Pr diangkat menjadi Uskup Bandung

Rasa kehilangan umat Keuskupan Agung Semarang agak terobati dengan adanya email dari Mgr Suharyo di millis KAS …

From: I. Suharyo <uskup@…>

To: Komunikasi_KAS@yahoogroups.com

Sent: Tuesday, July 28, 2009 12:25:20 AM

Subject: Re: [Komunikasi_KAS] Re: Profisiat kepada Mgr Ignatius Suharyo Pr

Kawan-kawan yang baik,

terima kasih atas perhatian dan doa-doanya.

Saya belum akan cepat-cepat ke Jakarta. Bapak Kardinal masih memberi waktu kepada saya untuk menyelesaikan tugas-tugas di KAS sampai sekitar pertengahan Oktober.

Banyak salam, Berkah Dalem

I. Suharyo

Mgr Haryo akan mulai bertugas di Jakarta pada pertengahan Oktober 2009, maka rupanya saat ini mulailah acara-acara perpisahan di Keuskupan Agung Semarang, seperti di Seminari Tinggi Kentungan – Jogyakarta yang telah diadakan kemarin rabu 15 September 2009

rabu, 15 September 2009, Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan mengadakan misa perpisahan dengan Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr, Ignatius Suharyo yang akan menjadi Uskup Coadjutor di KAJ.

misa dimulai jam 17.00, yang hadir seluruh keluarga besar Seminari Tinggi St.Paulus.misa sangat meriah karena dekorasi altar dan romo konselebran yang banyak memeriahkan misa sore itu.

pada misa kemarin, Mgr. Suharyo menceritakan riwayat hidup sejak kecil hingga kini menjadi uskup. menurut penuturan beliau, perkenalannya dengan panggilan diawali dengan sapaan romo Belanda yang pada waktu itu menjadi pastor stasi Sedayu. padahal, kakak beliau sudah lebih dulu masuk seminari tetapi pada gagal, tersisa 1 yang sekarang berada di Rawaseneng.

pasalnya dulu, Rm.Haryo ingin menjadi Polisi. mungkin kalau tidak bertemu dengan romo belanda, mungkin kini sudah menjadi Kapolsek Depok, katanya sembari tertawa.

bertepatan dengan Peringatan Bunda Maria yang Berduka, Rm. Haryo merefleksikan panggilannya menjadi imam dan kini menjadi uskup dijalani dengan penuh gembira.

tugas penggembalaannya sebagai dosen, staff seminari,dan akhirnya menjadi uskup diterimanya dengan gembira dan rendah hati.

3 point yang menjadi kekhasan Mgr.Suharyo selama menggembalakan umat di KAS, diungkapkan 3 point tersebut; 1. Terimakasih, 2. Baik, 3. Lanjutkan. 3 point itu terinspirasi dari buku yang dibaca sebelum ditahbiskan menjadi Uskup.

misa selese jam 19.00 dilanjutkan dengan makan malam bersama. tepat jam 20.00 acara ramah tamah, tepatnya GAUDIUMAN (yang artinya ikut bergembira) dimulai. acara sangat meriah. tampilan dari para frater, romo staf, membuat kecairan dalam kesedihan.

acara dipuncaki dengan tampilan teater Jaran Iman dari frater,dengan tema; GORO-GORO.

bapak uskup, para romo, para undangan, sangat menikmati dagelan-dagelan para frater yang memerankan punokawan dalam lakon gara-gara.

acara selese jam 22.00 diakhiri dengan doa malam dan berkat penutup dari Mgr. Suharyo.

selamat jalan, selama berkarya di KAJ, tebarkan virus kebaikan di seluruh dunia

salam

pemasok berita

christy (humas ucil-pwt)

Sumber : Millis KAS

Misa Perpisahan dengan umat di Kevikepan Semarang akan diadakan pada 29 September 2009 dengan mengambil tempat di GOR Jatidiri Semarang, bagi umat yang ingin hadir diminta mengambil Tanda Masuk di Paroki masing-masing, sistem Tanda Masuk ini diberlakukan karena keterbatasan tempat yang tersedia.

Selain itu bagi umat yang selama ini mengikuti Pembelajaran Kitab Suci bersama Mgr Suharyo dapat mengikuti Misa Perpisahan pada Senin tanggal 28 September 2009 jam 17:30 di Gereja Kadedral – Semarang, agar tidak terjadi penumpukan hadirin di GOR Jatidiri

September 17, 2009 at 11:12 pm Tinggalkan komentar

BULAN KITAB SUCI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Pertemuan II

HEROISME IMAN: TAAT SETIA KEPADA ALLAH, TEGAS MENOLAK ILAH-ILAH

Pengantar

Membela iman di zaman ini, rasa-rasanya menjadi suatu hal yang tidak mudah dilakukan, bukan karena sulit tetapi karena kurangnya militansi iman di dalam diri umat beriman. Tantangan zaman menyebabkan orang melihat iman pun dari sisi untung rugi: untuk apa aku membela imanku mati-matian kalau ternyata tidak menguntungkan hidupku di dunia ini? Apa untungnya aku mempertahankan imanku?

Dalam pertemuan pertama minggu lalu, kita disadarkan bahwa membela iman adalah suatu keutamaan yang harus dikembangkan di dalam hati setiap umat beriman, teristimewa dikembangkan dalam kebersamaan sebagai Gereja. Tentu saja, kita tidak harus sampai mengadakan perang suci seperti Matatias, yang mempertaruhkan nyawa mempertahankan kesucian Bait Allah. Akan tetapi, semangat seperti Matatias tersebut perlu dibangun di dalam setiap diri umat beriman.

Pada pertemuan kedua ini, kita akan diajak untuk merenungkan militansi iman dari sisi yang berbeda. Kisah tentang ibu dan ketujuh anaknya mengajak kita untuk merenungkan keberanian dalam menghadapi siksaan, penderitaan dan bahkan hukuman mati demi iman. Dari kisah ini, kita dapat merenungkan dan menimba kekuatan iman bahwa keyakinan akan adanya kebangkitan badan dan kehidupan kekal, menggerakkan orang untuk teguh dan berani menghadapi penderitaan bahkan kematian demi iman.

Pembacaan Teks Kitab Suci: 2 Makabe 7:1-42

1.Terjadi pula yang berikut ini: Tujuh orang bersaudara serta ibu mereka ditangkap. Lalu dengan siksaan cambuk dan rotan mau dipaksa oleh sang raja untuk makan daging babi yang haram. 2.Maka seorang dari antara mereka, yakni yang menjadi juru bicara, berkata begini: “Apakah yang hendak baginda tanyakan kepada kami dan apakah yang hendak baginda ketahui? Kami lebih bersedia mati daripada melanggar hukum nenek moyang.” 3.Maka geramlah sang raja, lalu diperintahkannya untuk memanaskan kuali dan kancah. 4.Segera setelah semuanya menjadi panas diperintahkanlah oleh sang raja, agar lidah juru bicara itu dipotong, kepalanya dikuliti dan tangan serta kakinya dikerat dengan disaksikan oleh saudara-saudara lain itu serta ibu mereka. 5.Setelah orang itu dipuntungkan seluruhnya, maka sang raja menyuruh untuk membawa orang yang masih bernafas itu ke api dan menggorengnya di dalam kuali. Sementara uap dari kuali itu merata luas, maka saudara-saudara lain serta ibu mereka mengajak untuk mati secara perwira. 6.Kata mereka: “Tuhan Allah melihat ini. Ia sungguh-sungguh menghibur kita, sebagaimana dahulu dinyatakan oleh Musa dalam lagu bantahan yang memberikan kesaksian ini: Ia akan menghibur hamba-hamba-Nya.” 7.Setelah yang pertama berpulang secara demikian lalu yang kedua dibawa untuk disiksa. Setelah kulit kepalanya serta rambutnya dikupas oleh mereka, maka bertanyalah mereka kepadanya: “Maukah engkau makan sebelum badanmu disiksa anggota demi anggota?” 8.Jawabnya dalam bahasanya sendiri: “Tidak!” Dari sebab itu maka pada gilirannya ia pun disiksa juga sama seperti yang pertama. 9.Ketika sudah hampir putus nyawanya berkatalah ia: “Memang benar kau, bangsat, dapat menghapus kami dari hidup di dunia ini, tetapi Raja alam semesta akan membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, oleh karena kami mati demi hukum-hukum-Nya.” 10.Sesudah itu maka yang ketiga disengsarakan. Ketika diminta segera dikeluarkannya lidahnya dan dengan berani dikedangkannya tangannya juga. 11.Dengan berani berkatalah ia: “Dari sorga aku telah menerima anggota-anggota ini dan demi hukum-hukum Tuhan kupandang semuanya itu bukan apa-apa. Tetapi aku berharap akan mendapat kembali semuanya dari pada-Nya!” 12.Sampai-sampai sang raja sendiri serta pengiringnya pun tercengang-cengang atas semangat pemuda itu yang memandang kesengsaraan itu bukan apa-apa. 13.Sesudah yang ketiga berpulang, maka yang keempat disiksa dan dipuntungkan secara demikian pula. 14.Ketika sudah dekat pada akhir hidupnya berkatalah ia: “Sungguh baiklah berpulang oleh tangan manusia dengan harapan yang dianugerahkan Allah sendiri, bahwa kami akan dibangkitkan kembali oleh-Nya. Sedangkan bagi baginda tidak ada kebangkitan untuk kehidupan.” 15.Sesudah itu segera yang kelima dibawa ke situ dan disengsarakan. 16.Sambil menatap sang raja berkatalah ia: “Meskipun baginda fana juga, namun baginda mempunyai wewenang atas manusia untuk berbuat sesuka hati baginda, tetapi baginda jangan menyangka Allah telah meninggalkan bangsa kami. 17.Baiklah baginda dengan sabar menunggu saja, niscaya baginda akan menyaksikan kebesaran kekuasaan Tuhan. Baginda akan mengalami bagaimana baginda sendiri serta keturunan baginda akan disengsarakan oleh Tuhan!” 18.Sesudah dia maka dibawalah yang keenam ke situ. Ketika sudah hampir menemui ajalnya berkatalah ia: “Jangan berpikir salah oleh karena kami menderita sengsara ini oleh sebab diri kami sendiri, oleh karena kami telah berdosa kepada Allah kami. Itulah sebabnya maka hal-hal yang mengherankan telah menimpa diri kami. 19.Tetapi baginda jangan menyangka bahwa baginda akan terluput dari hukuman. Sebab baginda sudah memerangi Allah.” 20.Tetapi terutama ibu itu sungguh mengagumkan secara luar biasa. Ia layak dikenang-kenangkan baik-baik. Ia mesti menyaksikan ketujuh anaknya mati dalam tempo satu hari saja. Namun demikian, itu ditanggungnya dengan besar hati oleh sebab harapannya kepada Tuhan. 21.Dengan rasa hati yang luhur. Dengan semangat jantan dikuatkannya tabiat kewanitaannya lalu berkatalah ia kepada anak-anaknya: 22.”Aku tidak tahu bagaimana kamu muncul dalam kandunganku. Bukan akulah yang memberi kepadamu nafas dan hidup atau menyusun bagian-bagian pada badanmu masing-masing! 23.Melainkan Pencipta alam semesta yang membentuk kelahiran manusia dan merencanakan kejadian segala sesuatunya. Dengan belas kasihan-Nya Tuhan akan memberikan kembali roh dan hidup kepada kami, justru oleh karena kamu kini memandang dirimu bukan apa-apa demi hukum-hukum-Nya.” 24.Adapun raja Antiokhus mengira bahwa ibu itu menghina dia dan ia menganggap bicaranya suatu penistaan. Anak bungsu yang masih hidup itu tidak hanya dibujuk dengan kata-kata, tetapi sang raja juga menjanjikan dengan angkat sumpah bahwa anak bungsu itu akan dijadikannya kaya dan bahagia, asal saja ia mau meninggalkan adat istiadat nenek moyangnya. Bahkan ia akan dijadikannya sahabat raja dan kepadanya akan dipercayakan pelbagai jabatan Negara. 25.Oleh karena pemuda itu tidak menghiraukannya sama sekali, maka sang raja memanggil ibunya dan mendesak, supaya ia menasehati anaknya demi keselamatan hidupnya. 26.Sesudah ia lama mendesak barulah ibu itu menyanggupi untuk meyakinkan anaknya. 27.Kemudian ia membungkuk kepada anaknya lalu dengan mencemoohkan penguasa yang bengis itu berkatalah ia dalam bahasanya sendiri: “Anakku, kasihanilah aku yang sembilan bulan lamanya mengandungmu dan tiga tahun lamanya menyusuimu. Aku pun sudah mengasuhmu dan membesarkanmu hingga umur sekarang ini dan terus-menerus memeliharamu. 28.Aku mendesak, ya anakku, tengadahlah ke langit dan ke bumi dan kepada segala sesuatunya yang kelihatan dan di dalamnya. Ketahuilah bahwa Allah tidak menjadikan kesemuanya itu dari barang yang sudah ada. Demikian pun bangsa manusia dijadikan juga. 29.Jangan takut kepada algojo itu. Sebaliknya, hendaklah menyatakan diri sepantas kakak-kakakmu di masa belas kasihan kelak.” 30.Ibu itu belum lagi mengakhiri ucapannya itu, maka berkatalah pemuda itu: “Kami menunggu siapa? Aku tidak mentaati penetapan raja. Sebaliknya aku taat pada segala ketetapan Taurat yang sudah diberikan oleh Musa kepada nenek moyang kami. 31.Niscaya baginda yang menjadi asal usul segala malapetaka yang menimpa orang-orang Ibrani tidak akan terluput dari tangan Allah. 32.Memanglah kami ini menderita oleh sebab dosa-dosa kami sendiri. 33.Kalau pun Tuhan yang hidup itu murka sebentar kepada kami untuk menegur dan memperbaiki kami, namun Ia pasti akan berdamai lagi dengan hamba-Nya. 34.Tetapi baginda, orang yang paling fasik dan paling keji di antara sekalian manusia, janganlah meninggikan diri dengan sia-sia dan tertipu oleh harapan yang tak pasti, meskipun baginda sekarang dapat menjatuhkan tangan baginda kepada abdi-abdi Sorga. 35.Sebab baginda belum juga terluput dari pengadilan Yang Mahakuasa dan Allah Pengawas. 36.Adapun saudara-saudara kami mendapat minuman kehidupan kekal karena perjanjian Allah, setelah mereka menderita sengsara sementara. Sedangkan baginda akan mendapat hukuman yang adil atas kecongkakan baginda oleh karena pengadilan Allah. 37.Sama seperti kakak-kakakku aku pun hendak menyerahkan jiwa ragaku juga demi hukum-hukum nenek moyang. Dan aku berseru kepada Allah, semoga Ia segera kembali mengasihani bangsa kami, dan semoga dengan pencobaan dan deraan baginda dibawa-Nya untuk mengakui, bahwa Dialah Allah yang esa. 38.Semoga kemurkaan Yang Mahakuasa yang secara adil berkecamuk atas seluruh bangsa kami itu berhenti dengan diriku dan dengan diri kakak-kakakku.” 39.Dengan meluap-luaplah kemurkaannya sang raja menyuruh untuk memperlakukan anak bungsu itu dengan lebih bengis daripada yang lain-lain. Sebab ia sakit hati karena cemooh itu. 40.Demikianlah anak muda itu berpulang dengan tak bercela, hanya dengan penuh kepercayaan pada Tuhan. 41.Ibu itu mati paling akhir sesudah anak-anaknya. 42.Dengan ini kisah tentang perjamuan-perjamuan korban dan aniaya yang melampaui batas itu mudah-mudahan telah cukup diterangkan.

Pendalaman Teks

1. Kisah ibu dan tujuh anaknya yang mati sebagai martir untuk membela keyakinan iman ini merupakan kisah yang paling mengharukan dari kedua kitab Makabe. Raja Antiokhus IV Epifanes menjajah bangsa Yahudi dengan penuh kekerasan. Kekerasan juga diperlakukan dalam bidang agama. Bangsa Yahudi dipaksa untuk menyembah dewa-dewa Yunani dan dipaksa melanggar perintah Taurat. Pada suatu kali dihadapkan kepadanya seorang ibu dengan tujuh anak laki-lakinya. Raja Antiokhus memaksa mereka melanggar Taurat. Mereka diperintah untuk memakan daging babi, yang bagi orang Yahudi termasuk daging haram. Jika mereka tidak mau menaati perintah raja, mereka akan dihukum mati dengan siksaan yang amat mengerikan. Algojo sudah siap untuk memotong-motong tubuh mereka dan memasukkannya ke dalam kuali penggorengan. Hukuman yang amat biadab itu dipakai sebagai ancaman, namun ibu dan ketujuh anak itu tetap teguh pada Hukum Taurat. Mereka lebih memilih mati dengan cara yang amat mengerikan itu daripada melanggar hukum Tuhan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Anak yang pertama menanggapi perintah raja dengan penuh ketegasan dan keberanian. Mereka lebih baik mati daripada melanggar hukum nenek moyang. Anak pertama yang menjadi juru bicara bagi saudara-saudaranya itu dihukum mati dengan cara mengerikan, disaksikan oleh ibu dan saudara-saudaranya. Ibu dan saudara-saudaranya tidak menjadi takut dan kehilangan iman kepercayaan. Sebaliknya, mereka justru berniat untuk mati secara perwira demi mempertahankan iman. Satu per satu anak-anak itu dibunuh dengan kejam dan mengerikan. Tinggallah anak bungsu dengan ibunya. Raja berpikir, anak bungsu dan ibunya akan ketakutan lalu memilih menaati perintah raja. Namun, ternyata raja salah sangka. Dengan diberi peneguhan oleh ibunya, si bungsu tetap menolak perintah raja dan memilih mati demi iman, menyusul kakak-kakaknya. Akhirnya, si bungsu itu pun dihukum mati, lalu menyusul ibunya. Apa yang didambakan ibunya kiranya terjadi. Mereka semua akan dikumpulkan lagi di dalam kehidupan kekal.

2. Kisah kematian ini ditulis dengan amat bagus dan mengharukan. Setiap tokoh memberikan argumen mendasar tentang kematian sebagai martir. Jumlah tujuh dalam tradisi Yahudi melambangkan kesempurnaan, karena itu keluarga tersebut dapat dipandang sebagai keluarga yang memberikan teladan hidup beriman yang sempurna.

3. Cerita ini dimaksudkan sebagai kisah teladan bahwa ketaatan kepada hukum Allah lebih utama daripada hidup itu sendiri. Ketaatan akan Allah dan perintah-Nya membuat para tokoh iman ini berani mengorbankan nyawa mereka. Segala bujuk rayu seperti kekayaan dan kebahagiaan duniawi serta pelbagai jabatan (2Mak 7:25) tidaklah mempan untuk menggoyahkan orang yang sungguh memiliki ketaatan iman yang sempurna.

4. Masing-masing dari ketujuh anak itu mengajukan alasan mengapa rela mati:

a. Lebih baik mati daripada melanggar hukum (2Mak 7:2)

b. Raja dapat membunuh mereka, tetapi Allah akan membangkitkan mereka dari mati (2Mak 7:9)

c. Raja dapat menganiaya mereka, tetapi Allah akan memulihkan luka-luka tubuh mereka (2Mak 7:11)

d.Hidup mereka akan dibangun kembali, sedangkan hidup raja tidak (2Mak 7:14)

e. Allah tidak akan meninggalkan umat-Nya yang setia, tetapi akan menyiksa raja dan bangsanya (2Mak 7:16-17)

f. Mereka bersedia menderita sebagai silih karena berdosa sebagai bangsa (2Mak 7:18-19)

g. Kematian seorang yang dengan tegar membela imannya, membawa keselamatan bagi seluruh bangsanya (2Mak 7:37-38)

5. Peranan seorang ibu dalam kisah ini juga tampak nyata, bahkan penting dalam memberikan semangat serta menyiapkan anak-anaknya untuk berani menyambut kematian mereka. Ibu mendorong anak-anaknya untuk tetap setia dengan mengingatkan mereka akan kekuasaan Allah untuk mencipta dan memulihkan kehidupan (2Mak 7:22-23.27-29)

6. Sebagai seorang ibu, ia menyadari bahwa hidup manusia merupakan suatu anugerah yang diberikan Tuhan, yang diberikan sejak dalam kandungan, meskipun hidup itu sendiri perlu diperjuangkan. Akan tetapi, berhadapan dengan ancaman yang menjauhkannya dari hukum Allah, hidup itu harus dikorbankan demi kesetiaan dan ketaatan kepada-Nya agar kebangkitan badan dan kehidupan kekal diterimanya kembali.

7. Mati sebagai martir mengubah hidup dan membuahkan kehidupan karena kesetiaan kepada Allah dan berkebalikan dengan raja yang melawan Allah akhirnya mengalami kekalahan dan kematian.

Sharing

Beberapa pertanyaan yang bisa membantu, misalnya:

1. Apakah pokok masalah yang dihadapi oleh ibu dan ketujuh pemuda yang ada dalam kisah tersebut? Bagaimana ibu dan ketujuh anaknya itu menanggapi permasalahan tersebut? Mengapa ibu dan ketujuh anaknya tersebut berani untuk mati?

2. Siapakah ‘raja Antiokhos” untuk zaman sekarang ini?

3. Makan daging babi pada waktu itu diharamkan, dianggap melanggar perintah hukum Taurat. Pelanggaran macam apakah yang menjadi godaan bagi kita di zaman sekarang?

4. Bagaimana cara kita membangun kesetiaan dan keberanian sebagai saksi iman di zaman ini?

5. Bagaimana peranan atau cara konkrit Anda dalam membimbing dan meneguhkan iman anak?

Peneguhan

1. Keluarga merupakan basis utama hidup beriman setiap anggotanya. Mendidik setiap anggota agar memiliki iman yang kuat di zaman ini merupakan tanggung jawab orang tua pertama-tama seperti yang dilakukan oleh ibu dalam kisah Makabe tersebut kepada ketujuh anaknya.

2. Keberanian membela ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya membutuhkan semangat kemartiran (kesaksian iman yang ditandai dengan pengorbanan diri) dalam hidup kita: Kemartiran dalam hal meninggalkan egoisme, kemartiran dalam melayani tanpa pamrih, kemartiran untuk mengembangkan cinta kepada Allah dan sesama.

3. Semangat kemartiran ini didasari pada harapan akan kebangkitan dan kehidupan kekal yang disediakan Allah dalam Yesus Kristus. Kita berjuang untuk setia kepada Allah di dunia ini supaya kita memperoleh (pantas menyambut) ganjaran surgawi yang disediakan-Nya bagi kita.

Sumber: BKS 2009 — KOMISI KITAB SUCI KAS

http://renunganpagi.blogspot.com

September 15, 2009 at 12:12 am Tinggalkan komentar

Bulan Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang

Pertemuan I KEBERSAMAAN MENEGUHKAN IMAN

Pengantar

Saudara-saudari terkasih, dunia dewasa ini penuh dengan tawaran dan tantangan yang tidak selalu sejalan dengan iman. Pada saat dibaptis, kita telah berjanji untuk setia pada iman dan menjadi manusia baru yang berani menolak segala hal yang jahat. Dengan iman yang teguh kita diharapkan senantiasa mengarahkan diri pada kehidupan kekal.

Oleh karena itu, iman mesti dikembangkan, baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan. Iman kita semakin diperteguh di dalam kebersamaan. Contohnya, dalam hidup bersama di lingkungan, biasanya umat yang jarang berkumpul mudah sekali larut dalam godaan duniawi. Contoh lain, dalam hidup doa, bila tidak diwaspadai, Allah menjadi semacam ‘berhala’ yang diharuskan memberikan segala permintaan manusia. Apalagi, jika permohonan itu disertai dengan ‘ritual’ doa tertentu, atau semacam mengucapkan ‘mantra’ doa tertentu.

Pertanyaan besar muncul di sana, “Siapakah Allah itu bagiku?” serta “Siapakah aku ini bagi Allah?” Dua pertanyaan tersebut berkaitan erat dengan pemahaman kita mengenai iman dan bagaimana kita menghayati iman.

Pada kesempatan ini, kita akan belajar dari Kitab Makabe, mengenai teladan orang beriman yang berpegang teguh pada iman dan sungguh memperjuangkan apa yang diimaninya. Dalam pertemuan ini, akan kita renungkan awal dari perjuangan Matatias beserta anak-anaknya untuk melawan raja Antiokhus Epifanes yang dengan sewenang-wenang telah menghina agama mereka dan memaksa agar mereka murtad.

Penyajian materi

a. Pembacaan Teks Kitab Suci (1 Makabe 2:1-22.27-31)

1.Pada waktu itu Matatias bin Yohanes bin Simeon, seorang imam dari keluarga Yoarib, berangkat dari Yerusalem dan menetap di kota Modein.

2.Matatias mempunyai lima anak, yaitu: Yohanes dengan sebutan Gadi,

3.Simon dengan sebutan Tasi,

4.Yudas dengan sebutan Makabe,

5.Eleazar dengan sebutan Avaran dan Yonatan dengan sebutan Apfus.

6.Melihat semua kekejian yang terjadi di Yerusalem dan Yehuda

7.maka berkatalah Matatias: “Celakalah aku ini! Apakah aku dilahirkan untuk menyaksikan keruntuhan bangsaku dan Kota Suci dan berdiam saja di sini sementara kota itu sudah diserahkan kepada musuh dan Bait Suci sudah di tangan orang-orang asing?

8.Bait Allahnya sudah menjadi seperti orang yang terhina.

9.Perkakasnya yang mulia sudah diangkut sebagai jarahan. Anak-anaknya dan kaum mudanya sudah dibunuh di lapangan-lapangannya oleh pedang musuh!

10.Bangsa manakah belum mengusirnya dari warisan kerajaan dan belum merampasinya?

11.Segenap perhiasannya sudah diambil. Dari pada merdeka mereka sekarang sudah menjadi sahaya belaka!

12.Lihatlah, apa yang kudus bagi kita, segenap keindahan dan kemuliaan kita sudah dipunahkan serta dicemarkan oleh orang asing.

13.Apa gunanya hidup bagi kita lagi?”

14.Lalu Matatias serta anak-anaknya menyobek pakaian mereka dan mengenakan kain karung dan sangat berkabung.

15.Kemudian para pegawai raja yang bertugas memaksa orang-orang Yahudi murtad datang ke kota Modein untuk menuntut pengorbanan.

16.Banyak orang Israel datang kepada mereka. Adapun Matatias serta anak-anaknya berhimpun pula. 17.Pegawai raja itu angkat bicara dan berkata kepada Matatias: “Saudara adalah seorang pemimpin, orang terhormat dan pembesar di kota ini dan lagi didukung oleh anak-anak serta kaum kerabat saudara. 18.Baiklah saudara sekarang juga maju ke depan sebagai orang pertama untuk memenuhi penetapan raja, sebagaimana telah dilakukan semua bangsa, bahkan orang-orang Yehuda dan mereka yang masih tertinggal di Yerusalem. Kalau demikian, niscaya saudara serta anak-anak saudara termasuk ke dalam kalangan sahabat-sahabat raja dan akan dihormati dengan perak, emas dan banyak hadiah!”

19.Tetapi Matatias menjawab dengan suara lantang: “Kalau pun segala bangsa di lingkungan wilayah raja mematuhi seri baginda dan masing-masing murtad dari ibadah nenek moyangnya serta menyesuaikan diri dengan perintah-perintah seri baginda,

20.namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku terus hendak hidup menurut perjanjian nenek moyang kami.

21.Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan.

22.Titah raja itu tidak dapat kami taati dan kami tidak dapat menyimpang dari ibadah kami baik ke kanan maupun ke kiri!”

2:27 Lalu berteriaklah Matatias dengan suara lantang di kota Modein: “Siapa saja yang rindu memegang hukum Taurat dan berpaut pada perjanjian hendaknya ia mengikuti aku!”

28.Kemudian Matatias serta anak-anaknya melarikan diri ke pegunungan. Segala harta miliknya di kota ditinggalkannya.

29.Kemudian turunlah ke padang gurun banyak orang yang mencari kebenaran dan keadilan.

30.Mereka sendiri serta anak-anak, isteri-isteri dan ternaknya menetap di sana. Sebab mereka dianiaya oleh yang jahat.

31.Dalam pada itu telah diberitakan kepada para petugas raja dan kepada pasukan yang berada di Yerusalem, di Kota Daud, bahwa orang-orang yang mempermudah perintah raja telah turun ke persembunyian di gurun.

b. Pendalaman Teks

1. Sebelum melakukan penafsiran teks kita perlu memperhatikan struktur dan dinamikanya. Kisah awal dari perjuangan keluarga Matatias ini (1 Makabe 2:1-22.27-31) dapat dibagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama memaparkan adanya keprihatinan atas situasi dan kondisi yang terjadi (ayat 1-12), membangun tekad untuk mengatasi keprihatinan (ayat 14-21), melakukan tindakan yang nyata (ayat 27-31).

2. Keprihatinan atas situasi dan kondisi yang terjadi (ayat 1-12):

Bangsa Israel pada zaman penjajahan raja Antiokhus IV Epifanes mengalami penindasan dan hambatan dalam hidup beragama. Hambatan terhadap kehidupan beragama dimulai dengan pencemaran terhadap kota Yerusalem beserta Bait Suci. Banyak orang terbunuh demi iman di kota Yerusalem. Kota kudus bagi umat Yahudi itu telah dihancurkan dan dijadikan kota kafir yang penuh dengan patung dewa-dewi bangsa Yunani. Yang paling menyedihkan bagi Matatias adalah pencemaran terhadap Bait Suci yang berada di pusat kota Yerusalem dan pada waktu itu menjadi tempat terkudus bagi bangsa Yahudi. Peralatan ibadat di Bait Suci yang terdiri dari emas serta logam berharga telah dijarah. Tempat kudus itu dijadikan kuil dewa-dewi. Kita dapat membayangkan kepedihan hati Matatias dan anak-anaknya yang begitu peduli pada kekudusan Allah dan kesalehan umat beriman. Saat itu, tidak ada lagi tempat mereka beribadat dan bertemu bersama di hadapan Allah. Bangunan yang mereka hormati sebagai tempat kediaman Allah telah menjadi panggung penyembahan berhala. Korban-korban bakaran yang dipersembahkan untuk memuliakan Allah telah digantikan dengan korban bakaran bagi dewa-dewi asing. Dengan hati sedih Matatias meratap: “Lihatlah, apa yang kudus bagi kita, segenap keindahan dan kemuliaan kita sudah dipunahkan serta dicemarkan oleh orang asing. Apa gunanya hidup bagi kita lagi?” (ayat 12-13)

3. Tekad untuk mengatasi keprihatinan (ayat 14-21):

Apa reaksi Matatias dan anak-anaknya terhadap penindasan hidup beragama dan pencemaran simbol-simbol iman itu? Mereka sadar bahwa harga diri mereka sebagai bangsa yang berdaulat dan beriman kepada Allah telah diinjak-injak bangsa asing. Matatias dan anak-anaknya menyobek pakaian mereka dan mengenakan pakaian kabung. Menyobek pakaian adalah tanda dari kesedihan yang mendalam. Mengenakan kain kabung (dari karung) merupakan laku prihatin, tanda pertobatan dan perendahan diri di hadapan Allah untuk memohon pertolongan-Nya. Matatias sebagai orang beriman yakin bahwa apa yang terjadi pada mereka merupakan sebuah peringatan dari Allah karena dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Untuk itulah mereka perlu bertobat dan mohon pengampunan Allah. Salah satu tindak lanjut dari pertobatan adalah bertekun dalam iman dan membela iman dengan jiwa raganya. Di hadapan utusan raja yang membujuknya agar menaati perintah raja untuk mengingkari imannya, Matatias berkata: “Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Tuhan serta peraturan-peraturan Tuhan” (ayat 21). Dengan gagah berani dia menolak perintah raja dan bersama anak-anaknya bertekad untuk tetap setia pada hukum Tuhan, warisan iman nenek moyangnya. Keluhan dan ratapan saja tidak cukup. Matatias dan anak-anaknya berniat untuk mengatasi keprihatinan bangsanya dengan berbuat sesuatu yang nyata.

4. Tindakan nyata untuk setia pada Taurat dan membela iman pada Tuhan (ayat 27-31):

Matatias kemudian menyerukan gerakan perlawanan terhadap raja dan para pasukannya dengan cara gerilya. Bagi Matatias, perlawanan dengan cara mengangkat senjata merupakan wujud nyata dari kesetiaan mereka pada hukum Taurat dan perjanjian yang telah dilakukan Tuhan dengan nenek moyang mereka. Mengapa Matatias memakai kekerasan untuk melawan kekerasan? Untuk zaman itu, sikap dan tindakan Matatias dapat dipahami karena Antiokhus IV Epifanes bukan hanya menghambat hidup beragama tetapi juga melakukan penjajahan yang kejam. Matatias tahu bahwa di antara kaum sebangsanya ada yang memilih mati sebagai martir demi iman mereka. Namun dia tidak mau mati dengan cara pasif semacam itu. Dia bersedia mati demi iman tetapi lewat perang. Mati demi iman dengan senjata di tangan adalah pilihan hidupnya. Meskipun begitu dia tetap menghargai orang-orang sebangsanya yang bersedia mati tanpa perlawanan fisik. Dalam 1Mak 2:32-39 dikisahkan tentang orang-orang Yahudi yang diserang oleh pasukan raja Antiokhus pada hari Sabat. Mereka tidak melakukan perlawanan sama sekali karena pada hari Sabat orang Yahudi dilarang untuk melakukan pekerjaan. Kira-kira ada seribu orang mati dibunuh tanpa perlawanan karena mereka bertekad untuk setia pada hari Sabat. Sadar bahwa cara itu akan dapat memunahkan pasukannya, Matatias mengambil keputusan untuk tetap melakukan perlawanan jika mereka diserang pada hari Sabat. Mengenai hal ini dapat kita baca 1Mak 2:40-41.

Dengan keputusan itu, Matatias berjuang keras untuk mengusir penjajah dan mengembalikan kejayaan bangsanya sebagai bangsa berdaulat serta beriman pada Tuhan. Mengajak anak-anaknya dan semua orang yang bersedia berjuang dengannya, Matatias melarikan diri ke padang gurun. Di sana ia mulai menyusun kekuatan untuk melawan penjajah bangsanya dengan perang gerilya. Dalam kisah-kisah selanjutnya, perjuangan Matatias yang dilanjutkan oleh anak-anaknya itu, terutama di bawah pimpinan Yudas Makabe, berhasil mengusir penjajah dan mengembalikan kedaulatan serta kekudusan Allah di tengah bangsanya. Di bawah pemerintahan keturunan Matatias (nantinya dikenal sebagai Hasmone) bangsa Yahudi mengalami kemerdekaan selama hampir 100 tahun. Pada tahun 63 sebelum Masehi Pompeius menguasai Palestina, dan bangsa Yahudi kembali jatuh di bawah penjajahan bangsa asing. Kali ini penjajahnya adalah bangsa Romawi, sebuah bangsa yang mulai tumbuh sebagai negara adidaya. Kejayaan penerus Aleksander Agung mulai surut dan peran mereka kini digantikan oleh bangsa Romawi.

5. Dalam perjuangan Matatias dan keluarganya, iman menjadi harta yang tak ternilai harganya. Mereka rela membela harta itu dengan apa yang mereka miliki. Dalam diri Matatias dan keluarganya, kita dapat melihat bagaimana kecintaan akan Allah memang sungguh kuat. Ayat 20 menegaskan hal ini, bahwa Matatias dan keluarganya berjanji untuk hidup sesuai dengan ‘perjanjian nenek moyang kami’, yaitu taat kepada hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan. Demi perjuangan mempertahankan iman dan tradisi bangsanya, keluarga ini bahkan rela untuk pergi meninggalkan segala harta yang mereka miliki. “Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan,” demikian doa Matatias.

c. Sharing

1. Hal-hal apa sajakah yang menjadi keprihatinan iman di zaman ini? Hambatan untuk praktek hidup beragama memang kita rasakan. Namun, keprihatinan iman jauh lebih luas dari itu. Konsumerisme (orientasi pada membeli dan memakai apa yang tersedia), materialisme (orientasi pada materi), hedonisme (orientasi pada kenikmatan duniawi), dan sebagainya dapat menjadi ancaman bagi iman. Kita sharingkan bersama, tantangan-tantangan iman apa sajakah yang menjadi keprihatinan kita di zaman ini?

2. Bagaimanakah kita sendiri menghadapi tantangan-tantangan seperti itu?

3. Bagaimana kita bersama-sama bisa menjaga iman kita dari serbuan nilai atau semangat hidup yang merongrong nilai iman dan kasih itu?

4. Marilah kita mencermati kehidupan komunitas lingkungan kita. Apakah selama ini kita sudah menghargai kebersamaan yang kita miliki dalam iman untuk saling mengembangkan, atau malah kita menjadi pribadi yang tidak mau peduli satu dengan yang lain, hanya mementingkan urusan pribadi semata? Apa yang bisa kita buat dengan pengalaman-pengalaman itu bagi perkembangan iman dalam komunitas kita?

5. Apa yang perlu dan harus kita buat bersama, bila komunitas kita juga mengalami permasalahan bersama seperti komunitas Matatias? Bagaimanakah kita bisa mempertahankan iman di tengah himpitan zaman kini? Situasi dan kondisi kita tidak memerlukan perjuangan membela iman dengan cara perang seperti di zaman Makabe. Apakah ada cara lain yang lebih sesuai dengan zaman kita sekarang untuk membela dan mempertahankan iman?

Sumber : http://renunganpagi.blogspot.com

September 14, 2009 at 10:15 pm 1 komentar


Tulisan Terbaru :

Pengunjung :

  • 35,844

Langganan :

Ad Maiorem Dei Gloriam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.