Posts filed under ‘Keuskupan Agung Semarang’

Mgr Suharyo Resmi Uskup Koajutor KAJ

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah tiga bulan, Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo Pr akhirnya resmi menjabat sebagai Uskup Koajutor pada Keuskupan Agung Jakarta. Sebagai Uskup Koajutor, Suharyo akan mewakili Uskup Agung Jakarta Mgr Julius Kardinal Darmaatmaja jika ia berhalangan.

Misa Kudus Penerimaan Mgr Suharyo dilakukan di Gereja Katedral Jakarta, Rabu (28/10) pukul 10.00 tadi. Misa dipimpin langsung oleh Mgr Kardinal Julius Darmaatmaja.

Koor dari Paroki Kristus Raja Kampung Duri mendapat kehormatan mengiringi Misa Agung yang dihadiri Duta Besar Vatikan Mgr Leopoldo Girelli, Uskup Bandung Mgr Pujasumarto Pr, dan Uskup Bogor Mgr Cosmas Angkur OFM itu.

Dalam Gereja Katolik ada dua macam uskup pendamping, yakni Uskup Auxilier dan Uskup Koajutor. Uskup Auxilier tidak secara otomatis akan menggantikan uskup lama jika yang bersangkutan tidak bisa menjalankan tugasnya. Sedangkan Uskup Koajutor, seperti yang disandang Mgr Suharyo, secara otomatis akan menggantikan uskup jika yang bersangkutan tidak bisa menjalankan tugasnya.

Untuk sementara, Mgr Suharyo dan Mgr Julius akan tinggal di tempat terpisah, tetapi untuk kegiatan pelayanan ataupun birokrasi keuskupan akan selalu dikomunikasikan.

“Saat ini Uskup Agung Jakarta seakan berkaki empat,” kata Kardinal menganalogikan kondisi di KAJ saat ini. Meski begitu, Kardinal berharap agar umat dapat memperlakukan Mgr Suharyo seperti umat memperlakukan dirinya.

Mgr I Suharyo dalam sambutannya di pengujung perayaan mengungkapkan, dirinya sebenarnya sudah diminta untuk datang ke Jakarta seusai pengangkatannya oleh Paus pada 25 Juli lalu. Akan tetapi, dia meminta waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas pokoknya di Keuskupan Agung Semarang.

Seperti diberitakan, pimpinan tertinggi Gereja Katolik Dunia Paus Benediktus XVI telah menunjuk Mgr Ignatius Suharyo, Uskup Agung Semarang, sebagai Uskup Koajutor Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Sabtu (25/7) pukul 17.00 WIB atau pukul 12.00 waktu Roma.

Sumber : Kompas.com

Terjadilah kekosongan jabatan Uskup KAS ?

Kekosongan jabatan Uskup di Keuskupan Agung Semarang hanya terjadi beberapa jam saja, yaitu sekitar 2 jam, sejak sekitar 10:50 saat Duta Besar Vatican Mgr Leopoldo Girelli menunjukan Bulla Penunjukan kepada Bapak Kardinal Julius Darmaatmadja, Konsultore Jakarta dan umat KAJ hingga pukul 13:30 dimana Romo Pius Riana Prapdi Pr, Vikjen Keuskupan Agung Semarang, terpilih sebagai Administrator Diosesan pada pertemuan Konsultor KAS

Siapa Romo Pius Riana Prapdi Pr ?

Sebelum menjabat sebagai Vikjen KAS sejak 10 Juli 2008, beliau bertugas di Paroki Fransiskus Xaverius Kidul Loji Yogyakarta dan menjadi Direktur utama KARINA KAS. Sempat mengikuti study di Italia. Beliau juga pernah bertugas di Paroki Sragen tahun 1997 s/d 1998. Banyak catatan positif dan kenangan manis dari umat Sragen (baik dari anak-anak, kaum muda hingga orang tua) tentang Romo Riana saat ia mendampingi Romo Petrus Soeprijanto, Pr (sebagai Pastor Kepala) bertugas menjadi gembala di Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen.

Sumber : Paroki Sragen

(Foto : Komisi KomSos KAJ)

Oktober 29, 2009 at 6:58 pm Tinggalkan komentar

SURAT GEMBALA MGR. I SUHARYO

SURAT GEMBALA MGR.  I  SUHARYO

DALAM RANGKA KEPINDAHAN KE

KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA

24/25 OKTOBER 2009

Para Ibu/Bapak,

Para Suster/Bruder/Rama

Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

1. Sekitar duabelas tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Agustus 1997, saya menulis surat bagi Umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang, dalam rangkamenyiapkan diri, menyongsong Tahun Yubileum Agung tahun 2000. Dalam rangka TahunYubileum itu, almarhum Paus Yohanes Paulus II mengajak kita untuk bergembira dan bersyukur, merasakan kebahagiaan hidup sebagai orang beriman yang dianugerahi keselamatan. Dengan merayakan Tahun Yubileum Agung itu kita juga mengungkapkan

harapan kita akan datangnya tata kehidupan baru yang semakin bersaudara, adil, damai dan sejahtera, “langit baru bumi baru”. Harapan inilah yang selama ini bersama-sama kita perjuangkan perwujudannya dalam berbagai kesempatan dan dengan berbagai cara.

2. Dalam rangka itu pulalah Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dirumuskan, berbagai pedoman diberlakukan serta berbagai wacana – misalnya Gereja sebagai peristiwa, Gereja yang signifikan secara internal relevan secara eksternal, penegasan bersama, pelayanan yang murah hati dan berbagai wacana lain – dilontarkan. Semuanya diharapkan mengalirkan dinamika kehidupan umat beriman yang mengarah ke terbangunnya komunitas alternatif atau komunitas kontras :

yaitu komunitas umat beriman yang hidup berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah, bukan sekedar mengikuti arus jaman yang tidak selalu membawa kita semakin dekat dengan Allah, sesama dan alam semesta.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

3. Agar harapan itu pelan-pelan dapat menjadi kenyataan, kita diundang untuk selalu membarui diri sebagai murid-murid Yesus. Kisah pengemis buta Bartimeus yang diwartakan pada hari ini dapat membantu kita dalam usaha mengembangkan hidup kita sebagai murid-murid Kristus. Perjumpaan Bartimeus dengan Yesus membuat dirinya yang tadinya buta (Mrk 10:46), menjadi melihat (ay 52). Ia yang tadinya hanya “duduk” (ay 46), lalu “berdiri” (ay 50) pergi mendapatkan Yesus. Ia yang semula hanya “di pinggir jalan” (ay 46), lalu “mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” (ay 52). Ia menanggalkan jubahnya (ay ay 49), artinya “menanggalkan manusia lama … dan mengenakan manusia baru” (Ef 4:22; bdk Kol 3:9). Sikap dan kata-kata Yesus juga mengubah sikap para murid. Semula mereka menegor pengemis buta itu (Mrk 10:48). Sikapnya tidak bersahabat, kata-katanya tajam. Setelah Yesus menyuruh mereka untuk memanggil si pengemis itu, sikap mereka berubah menjadi bersahabat dan kata-kata mereka meneguhkan. Mereka berkata, “Kuatkan hatimu… Ia memanggil engkau” (ay 49). Tampak jelas bahwa perjumpaan-perjumpaan yang diceritakan dalam kisah ini merupakan saat-saat yang membaharui dan meneguhkan kehidupan.

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

4. Selama dua belas tahun melayani umat di Keuskupan Agung Semarang ini, saya banyak mengalami perjumpaan-perjumpaan seperti itu. Saya merasa diteguhkan dan berkembang dalam imamat serta dalam pelayanan dalam perjumpaan-perjumpaan seperti itu. Maka pada akhir masa pelayanan saya sebagai Uskup di Keuskupan Agung Semarang ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih. Terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak – pendek kata kaum awam -

atas keterlibatan Ibu/Bapak/Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak dalam kehidupan Gereja. Keterlibatan Ibu/Bapak/Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak sungguh membuat Gereja kita hidup. Saya berdoa, semoga keluarga-keluarga kita dilimpahi berkat, perlindungan dan damai sejahtera. Terima kasih kepada para Suster dan Bruder atas pilihan hidup, kehadiran dan pelayanan yang para Suster dan Bruder berikan. Kehadiran dan pelayanan para Suster dan Bruder amat menentukan wajah Gereja di Keuskupan Agung Semarang ini. Saya berdoa semoga komunitas-komunitas para Suster dan Bruder menjadi komunitas yang semakin memancarkan kasih Tuhan sendiri. Terima kasih kepada para imam, baik yang berkarya maupun yang tinggal di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Kerja keras dan kerelaan untuk bekerjasama di antara para imam menjadikan pelayanan kita semakin murah hati dan cerdas. Saya berdoa agar para imam mengalami kegembiraan batin yang terpancar dalam hidup yang damai serta pelayanan yang semakin total dan tulus.

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

5. Pada tanggal 25 Juli 2009 yang lalu saya ditunjuk oleh Bapa Suci Benediktus XVI untuk menjadi Uskup Agung Koajutor di Keuskupan Agung Jakarta. Saya membutuhkan waktu cukup lama untuk mencoba mengerti dan memaknai kehendak Tuhan dalam penunjukan ini. Saya menerima perutusan ini dengan lapang hati ketika saya sampai pada keyakinan bahwa yang mengutus saya adalah Umat Keuskupan Agung Semarang. Pimpinan Gereja memanggil saya, Keuskupan Agung Semarang mengutus saya dan saya menerimanya karena saya yakin bahwa hidup adalah anugerah yang selalu harus dibagikan. Terima kasih atas sekian banyak doa yang dipanjatkan untuk saya dalam rangka penerimaan tugas baru ini. Kalau pernah ada yang baik yang saya lakukan dalam pelayanan saya selama ini, semuanya itu adalah buah dari doa-doa seluruh umat. Bekal doa ini pulalah yang akan saya bawa dalam menjalankan tugas pelayanan saya selanjutnya. Saya akan berangkat hari Selasa 27 Oktober 2009 dan akan diterima di Keuskupan Agung Jakarta pada hari Rabu 28 Oktober 2009. Marilah kita saling mendoakan agar kita dapat menjalankan perutusan kita masing-masing yang berbeda-beda, demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama.

1.Doa rosari bersama umat

Hari pertama bulan sepuluh,

Hati gembira penuh semangat

Bunda Maria tempat berteduh

2. Di hutan hidup kawanan lebah

Di sawah tumbuh rumpun padi

Matahari terus berubah

Kasih Tuhan kekal abadi

Berkah Dalem,

Semarang, 13 Oktober 2009

+ I. Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Semarang

Oktober 20, 2009 at 11:01 am Tinggalkan komentar

Yang Terpilih untuk Dipecah & Dibagi

Menjadi Uskup bukanlah suatu cita-cita sebab tidak ada sekolah khusus untuk menjadi Uskup. Tetapi bahwa seorang imam dipilih menjadi Uskup, pastilah karena memiliki suatu keistimewaan, baik dalam hal iman, moral dan dalam kebijaksanaan hidup. Singkatnya, seorang yang dipilih menadi Uskup pastilah memiliki kesempurnaan dalam tritugas pelayanan sebagai imam, nabi dan raja. Itulah yang terjadi dalam diri Mgr. I. Suharyo, Uskup Agung Semarang.

Gereja Keuskupan Agung Semarang pantas bersyukur atas segala berkat dari Tuhan atas penggembalaan beliau selama 12 tahun menjadi Uskup di Keuskupan Agung Semarang. Dalam masa penggembalaan beliau, lahirlah beberapa kata kunci yang menuntut Gereja untuk selalu merefleksikan, mengolah dan mengambl suatu tindakan nyata dalam peziarahannya di Keuskupan Agung ini. Membangun komunitas, duduk bersama, pelayanan yang murah hati, adalah sebagian dari sekian kata-kata kunci yang diwariskan oleh Bapa Uskup Mgr. I. Suharyo dalam pelayanannya sebagai Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang.

Bahwa sekarang Bapa Uskup Mgr. I. Suharyo dipindah menjadi menjadi Uskup Koajutor di Keuskupan Agung Jakarta, memunculkan berbagai macam ungkapan, kesan, bahkan pesan-pesan tersendiri. Yang jelas, hampir seluruh umat Keuskupan Agung Semarang, para imam, biarawan dan biarawati merasa kehilangan. Seorang imam mengatakan: “wis, sesuk Semarang diganti Uskup sing elek wae, ben ora usah dipindah-pindah (Dah.. besok Semarang diberi Uskup yang jelek saja, biar tidak dipindah-pindah: hanya masalahnya apakah Roh Kudus akan dapat memilih Uskup yang jelek?) Ungkapan imam itu menunjukkan adanya kekecewaan imam tersebut karena kepindahan Mgr.I. Suharyo. Memang, pindahnya Uskup Agung Semarang sudah merupakan peristiwa yang kedua kalinya setelah sebelumnya yaitu Bapa Kardinal Yulius Darmaatmadja SJ, Uskup Agung Semarang juga dipindah ke Jakarta.

Great moment to share….
Jika kita googling dengan kata kunci “Ignatius Suharyo”, dalam kurun 0.23 detik terkumpul 5.820 artikel. Jika dicari “Mgr. Ignatius Suharyo”, terkumpul hasil 9.440 artikel berbahasa Indonesia dan 949 artikel berbahasa Inggris dalam waktu 0.06 detik. Saya ketik kata kunci “I. Suharyo Pr”, maka tertayang 24.500 hasil dalam waktu 0.27 detik. Apa artinya itu, jika bukan kenyataan bahwa Monsinyur Suharyo “kondhang”? (J. Dwi Harsanto, Pr)

Beliau tidak suka jajan. Dalam hal ini, beliau sangat cocok untuk menggembalakan umat di Jakarta karena kesaksian hidup sederhana menjadi sangat bermakna di tengah maraknya gaya hidup metropolitan yang sarat dengan aktivitas belanja dan kuliner. (CB Mulyatno, Pr).

Aku mikir tentang hal-hal besar demi panggilan dan perutusanku, tapi Rama yang lembut itu berpikir begitu sederhananya. Pelajaran rohani yang kudapatkan dari rama yang lembut ini: hidup tidak boleh berhenti pada bungkus serta pentingnya keheningan dan suka cita dalam hidup dan panggilan. (St. Eka Riyadi, Pr.).
Ungkapan sesanti yang menggunakan unsur tiga (entah tiga kata atau tiga ungkapan peneguh), kerapkali kita dengarkan dan juga kita rasakan. Tiga kata Uskup yang bisa menjadi daya pamungkas adalah “Baik, terima kasih, teruskan”. (FX Sukendar Wignyasumarta, Pr)

Getaran hati Mgr. I. Suharyo telah dinanti di Jakarta. Menggetarkan Jakarta yang mendamba dengan sabda: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yoh 2:17). Cinta untuk rumah Keuskupan Agung Jakarta menghanguskan hati. Jakarta digetarkan dengan hati: cinta untuk rumah-Mu menggetarkan aku. (P. Riana Prabdi, Pr)

Kanisius

Oktober 13, 2009 at 3:00 pm Tinggalkan komentar

Tulisan Lebih Lama


Tulisan Terbaru :

Pengunjung :

  • 34,728

Langganan :

Ad Maiorem Dei Gloriam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.