CEO: YESUS van NAZARET – Kisah, Perjumpaan, dan OB

11 07 2009

Berikut adalah tulisan Agustinus Budi Nugroho, S.J. salah seorang dari 6 frater yang pada rabu 29 Juli 2009 akan ditahbiskan oleh Mgr I Suharyo di Gereja St Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta

Semoga semangat St Ignatius “Ite inflammate omnia ! – Pergilah, kobarkan seluruh dunia !” senantiasa mengobarkan semangat hidup membiara orang muda Indonesia

Proficiat Yubileum 150 tahun Jesuit di Indonesia 9 Juli 1859 – 9 Juli 2009

Perjumpaan itu terjadi tiga belas tahun yang lalu. Waktu itu, aku masih seorang remaja culun dan agak bloon. Kejadiannya sore hari, saat itu aku lagi thengak-thenguk dengan muka kusut khas pemuda yang kehilangan orientasi. Dia datang menyapaku. ”Lagi bingung nih?”, sapanya. ”He..eh!” jawabku agak cuek. ”Mau yang asyik!” sambungnya. Wuih siapa orang ini? Jangan-jangan tukang jual putauw. ”Ndak, aku ndak jual apapun!”. Gile Dia tau. Lalu mau apa? ”Aku pengin hidupmu lebih asyik aja! Mau ndak!” katanya. Kalau aku mau, emang kamu bisa membuat hidupku lebih asyik!” sergahku. ”Tergantung seberapa besar kemauanmu!” sahutNya tangkas. Aku coba pandangi orang itu dan orang itu juga memandangku dalam-dalam. Sepintas aku baca name tag-nya tertulis: Yesus van Nazaret, dibawahnya ada tulisan: CEO (Chief Executive Officer). Ini seorang bisnisman pikirku. ”Yesus”, aku langsung teringat jangan-jangan Dia yang punya ”Company of Jesus” alias Compagnia de Gesù atau Serikat Yesus. Aku langsung terhenyak mataku terbelalak.

”Tuan seorang pebisnis?”

”Bisa dikatakan begitu!”

”Apa bisnis tuan untukku?”

” Keselamatan!”

Keselamatan? Aku heran sambil tersenyum geli.Wah orang ini salah. Masak aku yang ndak punya tampang serem mau diajak bisnis ”security”.

”Wah Tuan salah orang! Saya ini ndak punya cita-cita jadi polisi apalagi tentara! Kok Tuan ajak saya bisnis keselamatan!”

”Ndak, Aku ndak salah orang! Aku mengajak kamu bisnis Penyelamatan Jiwa-jiwa.”

Busyet, bisnis apa lagi itu? Aku pikir itu bisnis moda transportasi. Mungkin Mr. Yesus van Nazaret ini punya perusahaan oto Bus. Kalau itu yang dimaksud, aku mau karena sejak kecil aku senang nonton dan naik bus AKAP. Bus Mania bo! Tapi, aku kok ndak pernah dengar ada PO Yesus ya!?? Kalau PO Joko Kendil, PO Handoyo, PO Slamet aku tahu. Tapi Bus Yesus atau Bus Serikat Yesus ndak pernah aku lihat!

“ Pokoknya, hidupmu adalah bisnisku! Itu saja. Nih, aku beri buku, ambil dan bacalah!” Dia ngeloyor pergi sembari meninggalkan buku berjudul: ”Karisma-karisma Ignatian dalam Konstitusi Serikat Yesus”
Wah keukeuh juga tu orang. Wong remaja culun nan bloon, tahu dunia aja belum diajak bisnis. Bakal rugi tu orang. Kemudian aku baca buku itu. Ada istilah ”magis”. Weleh-weleh…ini sih soal ”jiwa” alias roh-roh halus. ”Lepas bebas” alias roh-roh bergentayangan. Tapi setelah aku baca, kok ini kayak manual hidup harian. Sambil aku baca, aku terapkan dengan cara yang gue banget. Uups…bertuah juga kata-kata itu!

Beberapa waktu kemudian, Mr. Yesus van Nazaret datang menemuiku. ”Gimana, sudah kamu baca! Asyik to!” Statement dilematis. Kalau aku jawab iya, pasti Dia sudah siap dengan langkah berikut. Maklum bisnisman gitu loh! Tapi kalau aku jawab tidak. Aku menipu diri. Akhirnya, aku join dengan Dia dalam bisnis Penyelamatan Jiwa-jiwa dalam ”Company of Jesus”. Dua tahun awal aku ikut training di Ungaran. Di rumah yang disebut novisiat, aku mencoba menangkap apa yang Dia maksud. Tapi aku kebingungan. Bisnisnya Penyelamatan Jiwa-jiwa tapi saban hari disuruh ngosek WC, ngarit, ngepel lantai. Aku jadi OB (Office Boy) disini. Emang ada jiwa yang kecemplung di kloset? Atau sembunyi dibalik reremputan? Satu kali, aku malah disuruh jadi kuli bangunan. Aku juga di up-grade dengan menjalankan retret 30 hari silentium magnum. Setelah itu, aku mulai sedikit dong! Aku mulai menangkap apa yang dimaksud dengan bisnis itu. Yang jelas di tempat itu aku menjadi sedikit lebih beriman. Bagaimana tidak beriman, setiap hari Senin harus menuntun sepeda onthel menembus hutan karet. Kalau Mak Lampir atau Kuntilanak liat pasti akan tertawa cekikan dan bilang ”Kacian deh lu!”.

Masa itu akhirnya berakhir. Aku pindah ke kota metropolitan. Jakarta aku datang! Aku berguru pada guru-guru kebijaksanaan di sekolah filsafat mazhab Jembatan Serong. Di sini malah aku diajak mempertanyakan emangnya jiwa itu ada kok mau menyelamatkan segala. Kali ini aku ’ditraining’ oleh para pakarnya. Tidak tanggung-tanggung, Mr. Yesus van Nazaret menyuruh Prof. Louis Leahy untuk menjawab soal itu.

Masa itu lewat, akhirnya aku dipercayai sebagai perekrut anggota baru. Aku disuruh kembali ketempat perjumpaan kita. Aku diminta untuk berjumpa dengan para remaja yang memiliki ”kerinduan suci”. Aku juga ndak tega kalo harus tebar pesona dan memberikan janji-janji nanti dikirain kampanye. Pokoknya kita buat asyik aja. Anak-anak suka gaul, mari kita gaul. Mereka ”gibol” alias gila bola, oya kita main bola. Eh, ternyata masih ada loh anak-anak yang kesengsem sama Mr. Yesus van Nazaret. Mereka akhirnya deal dengan Yesus lalu bilang: ”Yesus aku mau mengikuti-Mu, kemanapun Engkau pergi!”

Masa itu berakhir dan aku harus ’ditraining’ lagi. Mungkin karena aku masih belum juga menangkap apa sih inti bisnis ini. Memang bisnis Penyelamatan Jiwa-jiwa ini tidak sembarangan. Mr. Yesus van Nazaret pokoknya total. Aku masih harus ’ditraining’ lagi di sekolah teologi pontifikal; sekolah ini dibawah supervisi Gereja Katolik Roma. Menjelang akhir program, aku dengar bisik-bisik bahwa aku mau diangkat. Promosi jabatan kali yah! Mendengar itu aku mencoba mengenal Mr. Yesus dari Nazaret ini lebih dekat. Apalagi Compania de Jesu ini punya hasrat ”mengenal dan mengikutiNya lebih dekat.” Maka, diakhir program aku membuat tulisan akhir tentang figur Yesus dari Nazaret. Aku berpikir supaya nanti kalau bertemu dan bertanya jawab dengan Dia aku memiliki jawaban.

Bayanganku waktu itu pasti nanti aku jadi direktur kalau tidak manajer. Memang benar, aku dipanggil untuk bertemu dengan Yesus van Nazaret. Aku berjumpa denganNya dan bercakap-cakap tentang bisnis hidup yang sedang aku jalani denganNya. Dia mendengar segala harapan dan kerinduanku. Akhirnya, Dia memberiku Surat Keputusannya sebagai CEO. Surat itu aku buka dan kubaca. Melalu surat ini, saya mengangkat Sdr. Agustinus Budi Nugroho sebagai PELAYAN. Aku terkejut. Untuk apa aku bersusah payah selama ini. Untuk apa aku harus ’ditraining’ lama sekali kalau hanya untuk menjadi PELAYAN. Ini sih bukan promosi jabatan tapi kembali menjadi OB, Office Boy lagi!

Melihat rona keterkejutanku, Mr. Yesus van Nazaret berujar: ”Seperti Aku telah melayanimu sebagai ”pribadi” selama ini. Aku juga mau kamu menjadi pelayan Pribadi-Ku dan pelayan pribadi-pribadi.” Kata-kata ini mengingatkanku dengan begitu banyak perjumpaan dengan pribadi-pribadi yang telah membentuk diriku menjadi pribadi seperti ini. Mr. Yesus van Nazaret pasti sudah mengatur segala perjumpaan itu. Ada orang tua dan keluargaku; ada para kawan dan pengajar (SD St. Maria-SMP St. Mikael, Cimahi); ada kawan sepanggilan dan pembina di Seminari St.Petrus Kanisius, Mertoyudan; ada para pembina dan sahabat-sahabat dalam Tuhan di Serikat Yesus. Aku teringat pula akan berbagai kisah dan perjumpaan di Perkampungan Sosial Pingit. Wah, ini sebuah kepercayaan yang luar biasa. Perjumpaan itu mengobarkan hatiku untuk menjadi ”Pelayan Pribadi dan pribadi-pribadi.”

Itulah kisah perjumpaan hati yang menyulut kobaran…..siapa yang akan menyambungnya? Serikat Yesus ingin mendengarkan kisah itu.


tulisan tertahbis yang lain dapat dibaca di http://www.provindo.org/






Yubileum 150 tahun Jesuit di Indonesia

3 07 2009

ignatius2

Pada tanggal 9 Juli 1859 Pater Martinus van den Elzen SJ (1822-1866) dan Pater Johannes Baptista Pallinckx SJ (1824-1900) tiba di Batavi dan tanggal itulah yang dianggap sebagai tanggal masuknya Jesuit pertama kali di Indonesia, walaupun jauh sebelumnya St Fransiskus Xaverius telah datang ke daerah Maluku

Proficiat atas Yubileum 150 tahun Jesuit di Indonesia 9 Juli 1859 – 9 Juli 2009, Kobarkanlah terus hati dan semangat dalam menolong jiwa-jiwa … Ad Maiorem Dei Gloriam





Merayakan Ekaristi dengan Khidmat

19 06 2009

Paus Benediktus XVI - Hosti 1Perayaan yang Luhur
Perayaan Ekaristi adalah perayaan luhur yang diwariskan Kristus kepada kita. Sejak Gereja Perdana, umat Kristen senantiasa bertekun “memecahkan roti” (Kis 2:42.46) untuk mengenang sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Sekaligus dalam Ekaristi ini kita menantikan kedatangan-Nya yang mulia pada akhir zaman (bdk. 1 Kor 11:26). Dalam perayaan Ekaristi kita menyanyikan anamnesis setelah konsekrasi untuk mengenang sengsara-wafat dan kebangkitan Kristus serta menantikan kedatangan-Nya kedua kali.
Perayaan Ekaristi juga merupakan perayaan luhur dan penting karena melalui Ekaristi kita menerima “paket lengkap” kehadiran Tuhan (SC 7), yakni melalui:

[•] Umat yang berhimpun dalam nama-Nya,
[•] Imam, pemimpin perayaan Ekaristi, yang bertindak dalam nama Yesus,
[•] Kitab Suci yang diwartakan,
[•] Tubuh (dan Darah) Kristus yang kita sambut dalam komuni.

Perayaan Bersama Yang Sakral
Dalam Ekaristi Kudus, kita disatukan oleh Tuhan sendiri di sekitar altar untuk diteguhkan oleh Firman-Nya dan makan-minum dari Tubuh dan Darah yang satu dan sama. Kebersamaan ini secara nyata tampak dalam Komuni kudus, dimana kita tidak hanya bersatu dengan Tuhan, tetapi juga disatukan dengan yang lainnya. Maka peristiwa dalam perayaan Ekaristi adalah sesuatu yang sakral.

Dalam Konstitusi Liturgi dari Konsili Vatikan II dinyatakan, “ Umat beriman janganlah menghadiri misteri iman sebagai orang luar atau penonton yang bisu, elainkan sedemikian rupa sehingga melalui upacara dan doa-doa mereka memahami misteri itu dengan baik, dan ikut serta dengan penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka dengan rela hati menerima pelajaran dari Sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan dan bersyukur kepada Allah” (SC 48). Jadi, perayaan bersama yang sakral ini di satu pihak menuntut keterlibatan aktif kita dalam menjawab doa, menyanyi, maupun bersikap liturgi yang sama, tetapi di lain pihak juga menuntut kita untuk terlibat menciptakan suasana khidmat agar kita masing-masing bisa mengalami sentuhan Tuhan dalam perayaan ini. Konsekuensinya kita juga harus bertoleransi dan membantu orang lain sedapat mungkin mengalami sentuhan Tuhan dalam Ekaristi.

Waktu Hening dalam Misa Kudus
Kita tahu bahwa Misa Kudus adalah perayaan kita bersama, perayaan seluruh umat sehingga kita semua yang hadir diminta untuk berpartisipasi aktif dalam liturgi dengan berdiri, berlutut, berdoa, menjawab, menyanyi, dan mendengarkan bersama (bdk. SC 48). Maka tidak cukup bila dalam Misa Kudus kita hanya duduk-berdiri dan diam atau sibuk berdoa rosario sendiri, atau malahan ngobrol terus tiada henti. Tetapi yang menjadi persoalan, kapankah kita mempunyai waktu hening, untuk berdoa secara pribadi kepada Tuhan dalam Misa Kudus, bukankah Tuhan Yesus berkenan menjadi sahabat kita (Yoh 15:14), yang berarti siap mendengarkan keluh-kesah dan uneg-uneg kita? Kapan kesempatan kita bisa berdoa secara pribadi untuk menyampaikan ujud pribadi kita?

Perlunya Ujud Pribadi
Ada kalanya orang pergi ke Misa Kudus sekedar memenuhi kewajiban sehingga merasa ogah-ogahan atau menjalaninya secara formalitas. Situasi demikian bisa disiasati dengan membawa intensi pribadi dalam Misa kudus, yakni ujud khusus yang kita doakan dalam Misa Kudus. Ujud pribadi yang akan kita doakan dalam hati ini tidak hanya berkutat untuk kepentingan diri, tetapi mesti menjangkau juga pada kesejahteraan orang lain, entah anggota keluarga, teman-pergaulan, maupun kenalan kita. Doa kita sangatlah berguna bagi damai sejahtera orang lain. Itulah yang dilakukan Maria dalam pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-12), keempat orang yang menggotong temannya yang lumpuh (Mrk 2:5, melihat iman mereka), seorang ibu Kanaan bagi kesembuhan putrinya (Mat 15:21-28), kedua bapak yang memohonkan kesembuhan bagi anaknya (Mat 9:18-25; Mat 17:14-21), dan juga dilakukan oleh perwira Romawi di kota Kapernaum bagi kesembuhan hambanya (Mat 8:5-13). Dan permohonan dan intense demikian sangatlah berguna bagi mereka.

Kapan Mendoakannya?
Kesempatan pertama, tentu pada saat sebelum dan sesudah perayaan Ekaristi dimulai. Hal demikian memang tak bisa dilakukan oleh mereka yang biasa datang terlambat ataupun pulang mendahului berkat penutup. Selain doa pribadi, waktu hening sebelum misa juga bisa dimanfaatkan dengan persiapan batin dengan membaca bacaan yang akan diwartakan.

Kedua, pada saat hening di antara “Marilah Berdoa” dan doa pembuka yang diucapkan oleh romo. Pada saat hening ini kita diberi kesempatan untuk menyampaikan ujud-ujud pribadi kita dalam hati, yang kemudian dirangkum oleh romo dengan doa pembukaan yang resmi.
Ketiga, pada waktu persembahan. Kolekte merupakan simbol persembahan diri kita sekaligus ujud dan permohonan kita. Itulah yang akan disatukan dengan kurban Kristus di altar. Kurban Kristus inilah yang berkenan pada Allah Bapa.

Keempat, sebelum dan sesudah Komuni. Yesus yang bersabda dalam bacaan Injil, Yesus itu juga yang kita sambut dalam Komuni Kudus. Maka dalam doa pribadi ini kita bisa menanggapi Sabda Tuhan yang baru kita dengar itu, misalnya dengan menyampaikan niat-niat untuk menanggapi sabda Tuhan/ khotbah, mohon kekuatan untuk melaksanakan niat itu, atau menyampaikan ujud pribadi kita tadi. Saat-saat setelah komuni merupakan kesempatan emas bagi kita untuk lebih intens berbicara dengan Tuhan Yesus yang telah berkenan hadir di hati kita.

Upaya Menciptakan Kekhidmatan
Secara konkret apa yang bisa kita lakukan untuk menciptakan suasana khidmat dalam perayaan Ekaristi? Kiranya beberapa catatan praktis dan kritis berikut ini perlu diperhatikan:

[1]. Tidak Datang Terlambat – Pulang Cepat
Dalam perayaan Ekaristi, selalu saja masih ada yang suka datang terlambat dan pulang cepat. Ekaristi, dimana kita bisa mengalami kehadiran Tuhan, pun mereka perhitungkan secara praktis dan ekonomis. Mereka yang datang lambat dan pulang cepat ini agaknya kurang menyadari nilai kebersamaan dengan yang lain. Sekedar memikirkan “keselamatan individual”. Begitu sudah dapat “jatah komuni”, segera pulang duluan. Padahal, perilaku demikian bisa mengganggu konsentrasi umat di sekitar kita, setidaknya yang duduk sebangku dengan kita. Tentu, bukan dimaksudkan di sini, bahwa mereka yang datang terlambat tak boleh masuk. Tetapi, sedapat mungkin kita upayakan agar kita bisa mengikuti perayaan Ekaristi secara utuh dari awal sampai akhir.

[2.] Pakaian yang Pantas
Pakaian disebut pantas, manakala cocok dengan “situasi-kondisinya”. Pakaian tidur tak selayaknya dipakai untuk menerima tamu. Baju pesta tidak cocok kita kenakan di kolam renang. Demikian juga dengan pakaian untuk ke gereja, kita mesti ingat, kita mau bertemu dengan siapa. Dengan Tuhan dan umat yang lain. Maka tak bisa kita berdalih, “Peduli amat dengan pakaian, yang terpenting kan hati saya”. Sebab di gereja kita berdoa bersama yang lain. Pakaian kita yang terlalu nyleneh, super ketat, “you can see”; kerap malah menjadi batu sandungan bagi yang lain. Artinya, mereka yang duduk di sekitar kita sebenarnya sungguh mau berdoa, tetapi lantaran menyaksikan dandanan kita yang kurang pantas, jadinya terganggu juga: entah mencela dalam hati ataupun berpikiran lain. Memang semua tergantung pada orangnya. Tetapi, alangkah bijak bila kita tidak membawa orang lain jatuh dalam pencobaan. Tulis St. Paulus, “Karena itu, janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung” (Rom 14:13).

[3.] Berisik dan Ngobrol dengan Siapa?
Omong-omong dan berisik dengan umat sebangku, apalagi sampai ngobrol, sungguh mengganggu yang lainTerlebih selama perayaan Ekaristi sebenarnya merupakan kesempatan emas bagi kita untuk mendengarkan firman Tuhan dan menanggapinya dengan doa-doa kita. Kalaupun mau ngobrol, kita masih punya waktu dan kesempatan di luar gereja setelah Misa Kudus.

[4.] HP: Saya Siap Sedia untuk Siapa?
Di pintu masuk gereja biasanya ada peringatan agar HP dinonaktifkan agar membantu kekhidmatan suasana perayaan Ekaristi. Namun kenyataannya, tidak jarang terjadi selama perayaan Ekaristi berlangsung terdengar suara HP berdendang di gereja. Apa ini artinya? HP yang selalu on – aktif, sebenarnya menandakan kita bersiap sedia menerima panggilan dan pesan. Sayangnya, bukan panggilan dan pesan dari Tuhan, melainkan dari kolega dan mereka yang berada di luar gereja. Agar bisa siap sedia mendengarkan firman Tuhan, untuk sementara kesiapsediaan kita pada dunia luar, mesti kita non aktifkan. Tanpa itu, niscaya pikiran kita akan terus bercabang.

[5.] Soal Klasik: Anak-Anak
Berkaitan dengan kekhidmatan suasana perayaan Ekaristi, kerap anak-anak kecil juga dituding sebagai penyebabnya. Memang tidak semua anak bisa duduk tenang bersama orang tuanya. Harus ada banyak trik untuk mensiasatinya, mulai dari memberi pengertian dari rumah, membawakan mainan, mengajaknya keluar gereja bila menangis dan rewel, ataupun menitipkannya di Minggu Gembira selama perayaan Ekaristi berlangsung dan dibawa masuk kembali untuk menerima berkat di dahi pada saat komuni. Persoalan ini juga saya singgung dalam “Membangun Religiositas Katolik dalam Keluarga” pada buku SKP-4: Mendidik Anak secara Katolik (Pustaka Nusatama, 2006). Harus diakui, tidaklah mudah mengatasi persoalan anak-anak. Butuh seni tersendiri. Namun, kita harus ingat akan peringatan Tuhan Yesus, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab oirang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” (Mrk 10:14).
Maka kalaupun pada saat ada anak yang rewel dan menangis dalam Gereja, hendaklah kita memaklumi, toh orangtuanya akan segera berusaha menenangkannya. Kita tidak melihatnya sebagai “gangguan” yang mengusik kekhususk-asyikan kita, laiknya saat menonnton konser. Mungkin kita bisa mengingat komentar Tuhan Yesus, saat para imam kepala dan ahli Taurat merasa bising dan jengkel karena anak-anak dalam Bait Allah berseru “Hosana bagi Anak Daud.” Tanya mereka, “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” Kata Yesus kepada mereka, “Au dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian” (Mat 21:14-16; bdk. Mazmur 8:3). Dan mungkin kita juga bisa memaknai kehadiran (dan risikonya kerewelan) anak-anak dalam Gereja sebagai hal yang patut disyukuri sebab mereka inilah masa depan Gereja kekal dan syukur bahwa sejak dini mereka telah dibiasakan oleh orangtuanya untuk bergaul dengan Kristus dan Gerejanya. Sebaliknya, saya yakin Anda akan merasa “ngenes” bila menyaksikan gereja-gereja di Eropa, hanya dihadiri oleh para lansia! Jarang sekali orang muda dan keluarga muda (plus anak-anaknya) yang memenuhi gereja. Tentu berlimpahnya umat yang hadir dalam Gereja kita, perlu tetap diimbangi dengan upaya menjaga kekhusukan dan kekhidmatan perayaan Ekaristi. Maka kuncinya dalam hal ini adalah katekese iman dalam keluarga akan makna peryaaam Ekaristi itu sendiri bagi kita.

Demikianlah beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita bisa merayakan Ekaristi bersama dengan khidmat. Semoga.

Oleh: F.X. Didik Bagiyowinadi,Pr

Sumber: Beriman Katolik dari Altar Sampai Pasar (Yogyakarta: Pustaka Nusatama, 2006) 86-93.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=95445677439&ref=nf





Pope2you

23 05 2009

Pope2you

Posted using ShareThis





IV. Bertanggung Jawab pada Bangsa dan Negara

9 03 2009

1. Lagu Pembuka ♥ Indonesia Raya (berdiri)

2 . Tanda Salib dan Salam

P  Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

U Amin.

P Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Putera-Nya Yesus Kristus, besertamu.

U Dan sertamu juga.

3. Pengantar

Dalam hidup berbangsa dan bernegara orang Katolik adalah war-ganegara 100 %. Sebagai warganegara, ia harus berbakti kepada bangsa dan negara Indonesia. Umat Katolik bertanggung jawab untuk mewujudkan kesejahteraan sesama warga negara di segala bidang. Salah satu wujud partisipasi adalah dengan meng-gunakan hak pilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.

Yesus, Tuhan kita, memberi teladan dan mengajarkan bagai-mana menghormati para pimpinan negara dan membayar pajak kepada penguasa negara. Tentu saja Yesus juga mengajak kita untuk memberi apa yang menjadi hak Allah. Bagaimana kita me-wujudkan tanggung jawab pada Allah sekaligus mewujudkan tanggung jawab pada bangsa dan negara ini? Ini akan kita bahas dan renungkan dalam pertemuan ke-4 ini.

 

4. Pernyataan Tobat

P Marilah kita memeriksa batin kita sejenak. (hening sejenak). Saya mengaku….

U kepada Allah yang mahakuasa dan kepada Saudara sekalian,

bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan

perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya

sungguh berdosa. Oleh sebab itu, saya mohon kepada Santa

Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan

kepada Saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah,

Tuhan Kita. Amin.

P Semoga Tuhan yang berbelaskasih mengampuni kita, membebaskan kita dari dosa dan menganugerahkan hati yang bersih.

U Amin.

5. Doa Pembuka (bersama-sama)

Allah Bapa penyayang kehidupan, kami bersyukur boleh mendiami tanah air Indonesia dengan segala keragaman dan kekayaan alamnya. Kami bersyukur bahwa Engkau menyertai perjalanan bangsa dan negara kami. Bantulah kami agar dari hari ke hari kami semakin bersatu hati mewujudkan kesejahteraan umum. Terangilah hati dan budi kami agar tidak berpandangan sempit memperjuangkan kepentingan kelompok dan golongan sendiri. Demi Kristus, yang mengasihi semua orang dan telah wafat menebus dosa manusia, dalam persekutuan Roh Kudus, hidup kini dan sepanjang masa. Amin.

6. Lagu Pengantar Bacaan ♥ Padamu Negeri

7. Bacaan Kitab Suci: Mrk 12: 13-17

(Perikop dibaca 3 kali: bersama-sama satu kali, dibacakan oleh salah seorang peserta, dan membaca dalam hati.)

Renungan singkat

Negara dan bangsa adalah wadah pemersatu berbagai keragaman dan latar belakang warga negaranya. Negara dan bangsa ada untuk melindungi dan menciptakan kedaulatan setiap manusia. Dalam hal ini negara dan bangsa adalah baik sebagai dikehendaki oleh Tuhan. Sebagai warga negara setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Siapa yang memiliki lebih, hendaknya memberi lebih, agar tercipta keadilan dan kesejahteraan semua warga.

Yesus pun mengajarkan hal yang sama bahwa setiap orang punya kewajiban untuk membayar pajak kepada penguasa. Tujuan pajak, pada akhirnya, demi membangun negara dan kepentingan bersama. Namun, Yesus juga menekankan perlunya kewajiban sebagai warga Kerajaan Allah. Dengan demikian, kewajiban yang satu tidak meniadakan kewajiban yang lain. Kedua-duanya mesti dipenuhi.

Apa kewajiban kita terhadap Allah? Rasanya bukan sesuatu yang sangat rumit. Sebagaimana Allah telah memberikan kepada manusia dengan gratis (gratia = rahmat), maka manusia berkewajiban untuk memberikan dengan cuma-cuma pula. Oleh karena itu, manusia diundang untuk bermurah hati, sama seperti Bapa murah hati adanya. Kewajiban yang datang dari Allah rasanya demi kepentingan manusia juga, misalnya: memuji dan memuliakan Allah lewat doa dan ibadat. Contoh lain adalah memberikan derma kepada fakir miskin dan kaum terlantar, sebagaimana Tuhan bersabda: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:40)”. Sepuluh perintah Allah diberikan juga bukan demi kepentingan Allah, tetapi agar manusia selamat. Maka, tunggu apa lagi? Mari kita lakukan kewajiban kita kepada Tuhan dan kepada bangsa dan negara kita.

8. Doa Umat

P Marilah kita menyatukan hati kita untuk berdoa bagi bangsa dan negara:

P Bapa yang penuh kasih, utuslah Roh Kudus untuk menyatukan berbagai macam perbedaan dan keragaman yang ada pada bangsa dan negara kami.

U Semoga di negara dan bangsa kami tetap tercipta perdamaian dan kerukunan sehingga kami semakin maju dan berkembang.

P Bapa berkatilah dan jagailah para pemimpin bangsa dan negara kami agar mereka bertindak jujur dan adil.

U Berilah hati yang bijaksana sehingga mereka mau berkorban dan mengusahakan kebaikan dan kesejahteraan bagi semua.

P Bapa, Putera-Mu mengajak kami untuk bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan negara kami dengan ikut membayar pajak kepada pemerintah.

U Ajarilah kami untuk menghargai setiap usaha dan niat baik pemerintah. Doronglah kami untuk mau terlibat dalam usaha menciptakan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan sosial.

P Bapa, sebentar lagi bangsa kami akan menyelenggarakan Pemilihan Umum. Berkatilah seluruh proses pemilihan agar dapat berjalan dengan baik dan lancar.

U Semoga kami dan semua yang terlibat dalam Pemilu dapat bekerja dengan bersih, jujur dan adil, sehingga terpilihlah wakil-wakil yang dapat menyuarakan kebaikan dan bekerja demi kepentingan bersama.

P Marilah kita panjatkan doa dan permohonan kita …. Marilah kita mohon:

U Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

P Dengarkanlah ya Tuhan segala doa yang kami sampaikan dengan rendah hati kepada-Mu. Perkenankanlah kami menggabungkan-nya dengan doa Kristus Putera-Mu. Bapa kami ….

9. Doa Penutup (terinpirasi dari Doa untuk Tanah Air, PS. 194 )

Ya Bapa, kami bersyukur atas tanah air kami yang luas dengan isinya yang beraneka ragam; lautan dengan ribuan pulau, gunung dan dataran, hutan dan belantara; semuanya menyemarakkan tanah air kami.

Kami bersyukur atas ratusan suku dan aneka budaya serta bahasa yang Kau himpun menjadi satu bangsa dan satu bahasa.

Kami mohon berkat-Mu bagi semua yang mendiami tanah air ini. Semoga kami semua berusaha memelihara dan memajukannya. Bebaskanlah tanah air kami dari bahaya bencana alam, lumpur, longsor, tsunami, kelaparan dan wabah penyakit.

Semoga pemimpin bangsa kami tekun membangun tanah air ini demi kemakmuran dan kesejahteraan seluruh bangsa bukan untuk kepentingan golongan tertentu saja. Bantulah mereka mewujudkan tanah air yang adil, makmur, aman, damai dan sejahtera bukan menciptakan „Tsunami bangsa‟ sehingga rakyat semakin menderita. Semua ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

10. Membangun Niat

(Pemimpin mengajak umat membuat niat konkret, yaitu: siapa melakukan apa dan kapan dilaksanakan. Dengan demikian, Umat sungguh menghidupi Sabda Tuhan.)

11. Berkat dan Pengutusan

P Tuhan sertamu.

U Dan sertamu juga.

P Semoga Allah Bapa yang mahakasih mengertai dan memberkati

kita dalam setiap usaha dan niat baik kita.  Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

U Amin.

P Ibadat dan pertemuan kita sudah selesai.

U Syukur kepada Allah.

P Marilah kita bertanggung jawab sebagai warga negara dengan memajukan kesejahteraan bersama dan menggunakan hak pilih kita.

U Amin.

12. Lagu Penutup  Ibu Pertiwi

 

 





III. Bertanggung Jawab pada Masyarakat Luas

7 03 2009

1. Lagu Pembukaan

2. Tanda Salib dan Salam

P  Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

U Amin.

P Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus besertamu.

U Dan sertamu juga.

 

3. Pengantar

Gereja hadir di tengah masyarakat yang majemuk dan situasi nyata masyarakat yang lemah, miskin dan menderita. Gereja sebagai paguyuban murid-murid Kristus dipanggil dan diutus un-tuk mewujudkan kesejahteraan umum, membebaskan orang-orang yang tertindas oleh ketidakadilan, memberantas kemiskin-an dan memelihara lingkungan hidup.

Yesus mengajak para murid untuk berbelaskasih dan melakukan tindakan nyata membantu orang yang lapar dan haus akan kasih Tuhan. Sebagaimana para murid menerima kasih dan pemeli-haraan Tuhan dengan cuma-cuma, maka kita diundang untuk memberi dengan cuma-cuma pula. Pertemuan ketiga ini menga-jak kita untuk mensyukuri relasi dengan Kristus sekaligus untuk menanggapi ajakan Kristus bertanggung jawab terhadap nasib saudara-saudari kita yang berkekurangan.

4. Pernyataan Tobat ( TPE hal 21 )

P Marilah kita hening sejenak untuk memeriksa batin, khususnya sikap kita terhadap masyarakat pada umumnya. (hening sejenak)

P Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami supaya berbuat yang benar. Tuhan, kasihanilah kami.

U Tuhan, kasihanilah kami.

P Engkau menanggung dosa kami supaya kami bebas dari kekuatan dosa dan dapat hidup menurut kehendak Allah. Kristus, kasihanilah kami.

U Kristus, kasihanilah kami.

P Engkau menderita bagi kami supaya kami selamat dan mengikuti jejakMu. Tuhan, kasihanilah kami.

U Tuhan, kasihanilah kami.

P Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita mengampuni dosa kita, mengantar kita kehidupan yang kekal.

U Amin

 

5. Doa Pembuka (bersama-sama)

Allah Bapa, Pencipta dan Penyayang kehidupan, Engkau mengetahui apa yang sedang terjadi pada masyarakat kami. Begitu banyak bencana dan krisis yang menimpa, entah karena bencana alam maupun karena buatan tangan manusia sendiri. Semoga masyarakat kami mau bertanggung jawab atas bencana yang terjadi dan kami tergerak untuk bersatu mengatasinya. Demi Kristus, Putera-Mu, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

6. Lagu Pengantar Bacaan

7. Bacaan Kitab Suci : Mat 14:13-21

(Perikop dibaca 3 kali: bersama-sama satu kali, dibacakan oleh salah seorang peserta, dan membaca dalam hati.)

Renungan singkat

Makan adalah salah satu kebutuhan pokok manusia selain tempat tinggal dan pakaian. Di antara kita masih banyak yang bertanya: besok makan apa? Artinya: banyak saudara-saudari kita yang belum mendapatkan makanan. Tidak jarang kekurangan makan, bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena tidak ada keadilan, yaitu: keadilan distributif, pembagian makanan yang tidak merata. Bumi dan kekayaan alam dipercayakan kepada manusia, untuk kesejahteraan manusia, namun sayangnya hanya dikuasai sebagian kecil saja manusia, sehingga banyak orang tidak mendapatkan makanan.

Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta Alam, sangat mengasihi manusia. Ia memberikan makanan dan rejeki. Ingat saja bagaimana Allah menyediakan makanan bagi Umat-Nya ketika mereka kelaparan di padang gurun. Hati Tuhan selalu berbelaskasihan kepada semua orang, terlebih mereka yang lemah, sakit dan kelaparan. Yesus mengundang dan melibatkan para murid-Nya untuk memberikan makanan dan kesembuhan bagi semua orang. Ia mengajak Para murid-Nya untuk bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup sesamanya. Mereka diminta percaya bahwa bersama Dia tidak ada orang yang berkekurangan.

Dengan demikian para murid diajak untuk “berpolitik”, bukan dalam arti berpolitik praktis, tetapi dalam arti memperjuangan kesejahteraan semua orang. Para murid diundang untuk tidak memperkaya diri, tetapi bekerja dengan jujur dan tekun, serta memberikan apa yang menjadi hak orang lain untuk makan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan. Kita diharapkan bertanggung jawab terhadap hidup sesama, agar saudara kita dapat memuji dan memuliakan Tuhan.

Bagaimana caranya? para murid diajak untuk bersyukur atas berapa pun yang mereka miliki. Mereka diminta untuk berani menyerahkan segala milik dan jerih payah mereka kepada Tuhan. Para murid hendaknya beriman kepada-Nya. Selain itu, kita dapat membayangkan juga bahwa kalau setiap orang menyumbang sedikit dari apa yang mereka miliki, maka kumpulan itu bisa dibagikan kepada mereka yang tidak memiliki sama sekali. Inilah kekuatan Ekaristi: bersyukur dan percaya kepada Tuhan dan memberi sebagian dari apa yang kita miliki.

8. Doa Umat

P Marilah kita merendahkan diri di hadapan Allah dan memanjatkan doa dan permohonan kita:

P Yesus, Engkau mengajarkan kami, untuk peka dan peduli akan kebutuhan sesama kami yang terlantar dengan saling berbagi sebagai rasa ungkapan bertanggung jawab satu terhadap yang lain.

U Mampukanlah kami, ya Tuhan, untuk percaya bahwa Engkau sungguh berada di tengah-tengah kami. Buatlah hati kami berbelaskasih seperti Engkau.

P Ya Bapa, Engkau memanggil dan mengutus Gereja-Mu membawa warta pembebasan bagi yang miskin, yang tertindas, yang lapar, dan membawa pendamaian dan pengampunan terhadap pelaku tindak kekerasan.

U Kuatkanlah tangan kami untuk bekerja demi kebaikan semua orang, mendahulukan mereka yang miskin dan lemah. Roh Kudus tinggallah di tengah-tengah kami selalu agar kami menyadari tanggung jawab kami pada masyarakat luas.

P Tuhan, kami bersyukur atas rejeki yang Kau berikan pada kami, yang Kau sediakan melalui orang-orang yang berjasa kepada kami. Ingatkan kami masih banyak mereka yang tidak mendapatkan rejeki.

U Ajarilah kami untuk menghargai segala pemberianmu dengan bijaksana, semoga kami mau dan mampu menghargai setiap jerih payah saudara kami yang menyediakannya.

P Marilah kita memanjatkan doa dan permohonan kita …. Marilah kita mohon:

U Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Demikianlah, ya Bapa, doa dan permohonan yang sempat terucap lewat kata-kata kami. Perkenankanlah kami menggabungkannya dengan doa yang diajarkan Putera-Mu sendiri. Bapa kami ….

9. Doa Penutup (bersama-sama)

Tuhan Yesus, kami bersyukur bahwa Engkau selalu memberi kami rejeki dan mengundang kami untuk ambil bagian dalam perjamuan-Mu. Semoga berkat persatuan dengan-Mu kami tergerak untuk membantu mereka yang lapar, miskin dan tertindas. Semoga semangat solidaritas untuk berbagi senantiasa hadir di tengah-tengah kami sebagaimana Engkau selalu ingin tinggal pada kami. Karena Engkaulah Tuhan yang bangkit yang membebaskan kami dari dosa dan kelemahan kami. Amin.

10. Membangun Niat

(Pemimpin mengajak umat membuat niat konkret, yaitu: siapa melakukan apa dan kapan dilaksanakan. Dengan demikian, Umat sungguh menghidupi Sabda Tuhan.)

11. Berkat dan Pengutusan

P Tuhan sertamu.

U Dan sertamu juga.

P Berkat Allah yang mahakuasa meneguhkan persaudaraan dan solidaritas kita pada masyarakat yang membutuhkan.  Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

U Amin.

P Ibadat kita sudah selesai

U Syukur kepada Allah

P Marilah pergi kita diutus bertanggung jawab pada masyarakat.

U Amin.

 

12. Lagu penutup

 





II. Bertanggung Jawab Pada Lingkungan

2 03 2009

1. Lagu Pembukaan

2. Tanda Salib dan salam

P  Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

U Amin.

P Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus besertamu.

U Dan sertamu juga.

3. Pengantar

Lingkungan sebagai komunitas basis menjadi fokus pember-dayaan Gereja Keuskupan Agung Jakarta. Secara khusus, komu-nitas basis diberdayakan dengan strategi gembala yang baik. Itu berarti: setiap anggota diajak untuk mencari dan menemukan yang hilang dalam komunitas tersebut dan mengajak setiap ang-gota untuk terlibat aktif. Pertemuan kedua, mengajak kita un-tuk menyadari tanggung jawab kita dalam membangun komuni-tas basis lingkungan.

Paulus dalam suratnya memberi nasehat untuk bertanggung jawab terhadap saudara-saudara seiman. Tanggung jawab terse-but diwujudkan dalam berbagai macam tingkat, mulai dari diri sendiri hingga tanggung jawab pada komunitas. Semoga kita makin bertanggung jawab terhadap saudara-saudara kita seiman dan mengembangkan karya pelayanan dan persekutuan kita.

4. Pernyataan Tobat

P Marilah kita hening sejenak memeriksa batin kita bagaimana sikap kita terhadap saudara-saudari kita di lingkungan. (hening sejenak) Marilah menyesali dan mengakui segala kelemahan kita.

U Allah yang maharahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan maha baik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang mahamurah, ampunilah aku, orang ber-dosa. Amin.

5. Doa Pembuka (bersama-sama)

Ya Tuhan Allah, Bapa kami, Engkau menghendaki kami berkarya untuk dunia dengan menyebarkan cinta kasih, pertama-tama di antara saudara seiman, membangun iman dan persekutuan. Ban-tulah kami masing-masing menemukan peran dan tanggung jawab kami dalam pelayanan Gerejani sesuai dengan panggilan hidup kami. Bukalah hati kami untuk selalu dibimbing dalam hidup menggereja dan memasyarakat. Demi Kristus, Tuhan kami yang hidup kini dan sepanjang masa. Amin.

6 Lagu Pengantar Bacaan

7. Bacaan Kitab Suci : Gal 6:1-10

(Perikop dibaca 3 kali: bersama-sama satu kali, dibacakan oleh salah seorang peserta, dan membaca dalam hati.)

Renungan singkat

Siapa biasa ikut dalam pertemuan atau ibadat di lingkungan? Rasanya tidak banyak, atau orang itu-itu lagi. Mengapa sebagian tidak ikut dalam pertemuan lingkungan? Alasan dan jawabannya bisa bermacam-macam. Ada yang merasa tidak berguna; ada yang sakit hati; ada yang sudah aktif di tempat lain; merasa terbebani pekerjaan; sudah punya komunitas lain; sering berpindah-pindah; atau tidak peduli. Menarik bila menyimak surat Paulus ini karena mengajak untuk tetap memperhatikan dan bertanggung jawab terhadap saudara-saudari seiman.

Tanggungjawab itu mesti diwujudkan dalam tingkat-tingkat, mulai dari diri sendiri: “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri!” (ay. 4). Jemaat diharapkan juga “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu” (ay. 2). Rasanya beban yang dimaksud adalah beban moril dan materiil. Kepada mereka yang sudah maju dan berkembang dalam hidup rohani, diharapkan “memimpin orang yang lemah ke jalan yang benar” (bdk. ay. 1). Akhirnya, Paulus memberi nasihat agar kita tidak pernah jemu-jemu berbuat baik (bdk. ay.9).

Bagi siapakah nasihat ini pada akhirnya? Sebenarnya bagi semua orang yang percaya kepada Kristus, namun nyatanya ada saudara kita yang tidak mau peduli. Oleh karena itu, kita yang peduli dan berkesempatan mendengarkan Sabda Allah diharapkan me-mulai saja tugas “menabur benih-benih kebaikan”. Sebab kita percaya bahwa benih itu memiliki daya kekuatannya sendiri un-tuk bertumbuh dan berkembang.

8. Doa Umat

P Marilah kita berdoa kepada Bapa yang telah mengutus Putera-Nya agar kita bersatu dan bersaudara saling meneguhkan iman dan pelayanan kita.

P Ya Bapa, tidak mudah bagi kami untuk membangun persaudaraan dan bertumbuh di dalam iman. Kami menyadari masih banyak saudara-saudara kami yang sibuk dengan urusan mereka sendiri.

U Utuslah Roh Kudus untuk memberikan semangat kepada kami bila kami melalaikan tanggung jawab kami membina persaudaraan dan iman. Bukalah hati saudara-saudara kami untuk mau bersekutu dalam doa dan pelayanan.

P Putra-Mu Yesus mengajari kami tekun dan setia mencari dan menyelamatkan yang hilang dan tersesat, menjadi Gembala yang baik bagi siapa pun.

U Semoga kami mau dan mampu belajar daripada-Nya. Buanglah sikap acuh tak acuh serta masa bodoh dalam diri kami agar kami bersedia menjadi berkat bagi orang lain.

P Santo Paulus memberi nasehat agar kami saling membantu memikul beban kami dan membantu mereka yang lemah.

U Tuhan, semoga hati kami terbuka untuk melihat dan membantu mereka yang lemah miskin dan kekurangan. Teguhkan iman kami untuk berjumpa dengan Engkau dalam diri saudara-saudara kami.

P Kami berdoa bagi setiap orang yang telah berbuat baik dan selalu mengusahakan kebaikan bagi sesama. Berkatilah setiap usaha baik yang telah diusahakan agar semakin berbuah.

U Ajarilah kami untuk meneladan mereka dan bertekun dalam perbuatan baik kami. Jauhkanlah kami dari sikap menonjolkan diri sendiri, tetapi agar Engkau semakin dipuji dan dimulyakan.

P Marilah kita memanjatkan doa-doa dan permohonan kita …. Marilah kita mohon:

U Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

P Bersama Bunda Maria yang selalu menyertai kita. Marilah kita doakan tiga kali Salam Maria. Salam Maria …. (3X).

9. Doa Penutup (bersama-sama)

Bapa yang mahakasih, berkatilah semua pengurus lingkungan, wilayah dan paroki. Berilah mereka semangat kerasulan yang tinggi dan iman yang teguh untuk berkarya bersama dalam Gereja. Ajarilah kami selalu untuk saling bantu dan tolong menolong menanggung beban kami agar terciptalah

paguyuban murid-murid-Mu yang hidup seturut kehendak-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin

10. Membangun Niat

(Pemimpin mengajak umat membuat niat konkret, yaitu: siapa melakukan apa dan kapan dilaksanakan. Dengan demikian, Umat sungguh menghidupi Sabda Tuhan.)

11. Berkat dan Pengutusan

P Tuhan beserta kita.

U Sekarang dan selama-lamanya.

P Semoga persaudaraan kita dijagai dan diberkati oleh Allah yang maha kuasa: Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

U Amin.

P Ibadat dan pertemuan kita sudah selesai.

U Syukur kepada Allah.

P Kita diutus menjadi gembala baik dalam lingkungan dan bertanggung jawab terhadap saudara-saudari kita.

U Amin.

12. Lagu Penutup